Arsip

Posts Tagged ‘Teknik sipil’

Kembalikanlah Martabat Engineer

9 Maret 2013 1 komentar

oleh : Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/Praktisi HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia)/ dan Dosen Teknik Sipil UIR

 

 

Dalam mengisi pembangunan bangsa ini, tugas seorang engineer sesungguhnya adalah sangat mulia. Mereka motor membangun gedung dan rumah-rumah tempat orang banyak berteduh, membangun jembatan-jembatan untuk memperpendek jarak dari daerah ke daerah, serta membangun jalan-jalan agar mudah ditempuh. Dalam keyakinan kita, membuang kulit pisang di jalan saja sudah banyak pahalanya. Apalagi membangun badan jalannya!

Tugas mulia itu, kini telah bergeser. Seharusnya engineer sebagai “penentu” hasil akhir pembangun, kini berubah menjadi yang “ditentukan”. Yang seharusnya menjadi “motor”, kini telah berubah menjadi roda atau ban. Yang seharusnya menjadi “kepala kucing”, kini telah berubah menjadi “ekor singa”. Jadi! Tidak heran, banyak gedung-gedung dan rumah-rumah yang retak, miring, bahkan ada yang rubuh sebelum digunakan. Banyak jembatan-jembatan yang gagal, turun dan retak, padahal baru tiga hari selesai dibangun. Sangat banyak jalan-jalan yang berlubang, aspal yang hancur dan penuh dengan kubangan air, padahal jalan tersebut belum diserah-terimakan.

Kembalikanlah martabat engineer! Kembalilah melaksanakan tugas yang mulia. Pantaskah, seorang engineer menaikkan atau meng-mark-up harga satuan pembangunan dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB)? Sehingga suatu proyek yang nilai satu miliar bisa menjadi satu setengah atau dua miliar. Haramkah, seorang engineer meng-mark-up volume-volume material dalam pembangunan jalan? Sehingga bisa menciptakan korupsi dan kolusi berjamaah. Ingat! Orang yang menjual minuman keras, orang yang membelinya, orang yang menyediakan gelas, orang yang menuangkan, dosanya sama dengan orang yang meminumnya. Sama-sama, Neraka.

Sebagai penutup saya kembali mengutip pernyataan yang menarik dari Said Dadu (Ketua Persatuan Insinyur Indonesia dalam majalah Techno Konstruksi Edisi 28: 13). “Bedanya engineer dengan bukan engineer adalah, kalau engineer selalu berpikir tentang nilai tambah, kalau non engineer berpikir value creation (rekayasa nilai). Sebagai contoh, harga kopi adalah biaya produksi untuk menjadikan kopi ditambah marjin keuntungan. Jika biaya produksi kopi Rp. 1.000 tetapi bisa dijual Rp. 10.000 kenapa tidak, itu bukan engineer. Jika harga kopi Rp. 1.000 diterima di pasar karena kemahalan, maka engineer akan berfikir mencari teknologi yang bisa menekan harga produksi kopi lebih rendah lagi agar bisa dijual di bawah Rp. 1.000.”

Semoga para engineer bisa kembali kepada fitrahnya dalam melaksanakan tugas yang mulia untuk mengisi pembangunan bangsa ini. Berperan sebagai motor pembangunan, bukan sebagai roda-roda gila yang mengilas jasad-jasad masyarakat miskin. Berperan sebagai penentu hasil akhir pembangunan, bukan sebagai wadah dan lahan berkolusi, berkorupsi buat para koruptor- koruptor atau buat para penghianat bangsa ini. Semoga!***

Iklan

JERITAN HATI SEORANG INSINYUR

 

Oleh : Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U. (Pengamat Perkotaan/Dosen Magister Teknik Sipil UIR)

 

            “Aku insinyur. Aku tak bisa menguraikan dengan baik hubungan antara kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan proyek ini dengan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Apakah yang pertama merupakan manifestasi yang kedua? Apakah kejujuran dan kesungguhan sejatinya adalah perkara biasa bagi masyarakat berbudaya, dan harus dipilih karena keduanya merupakan hal yang niscaya untuk menghasilkan kemaslahatan?” Mungkin. Atau entah. Yang jelas bagiku kecurangan besar maupun kecil yang terjadi di proyek ini pasti akan mengurangi kesungguhan, bahkan mengkhianati tujuan dasarnya. Dan hatiku tak bisa menerimanya.

            Mungkin jeritan hati yang dialami Kabul dalam pembangunan proyek jembatan di sebuah desa ini pada jamannya, juga dirasakan oleh insinyur-insinyur sekarang yang selalu mengutamakan profesi dan etika di atas kepentingan pribadi. Kisah Kabul yang saya kutip dari sebuah novel tulisan Ahmad Tohari (2002) dengan judul “Orang-Orang Proyek”, bisa dimanisvestasikan untuk insinyur-insinyur jaman kini yang mempunyai hati. Karena jeritan hati hanya buat mereka yang mempunyai hati, bagi mereka yang tak punyai hati tidaklah mungkin hatinya menjerit.

            Bila dahulu. Memahami proyek pembangunan jembatan di sebuah desa di Sungai Cibawor bagi Kabul, seorang insinyur yang mantan aktivis kampus, sungguh suatu pekerjaan sekaligus beban psikologis yang berat. “Permainan” yang terjadi dalam proyek itu menuntut konsekuensi yang pelik. Mutu bangunan menjadi taruhannya, dan masyarakat kecillah yang akhirnya menjadi korban. Itulah jeritan hati Kabul untuk bisa tetap bertahan, agar jembatan yang baru dibangunnya itu mampu memenuhi dambaan penduduk setempat. Bagaimana dengan sekarang insinyur sekarang?

            Kabul pun mendapat tantangan berat, di mana tiang-tiang pancang jembatan itu menjadi miring dihantam pohon-pohon mahoni besar yang hanyut bersama datangnya air bah. Kerusakan itu membuat kerugian yang cukup besar. Serta memberikan beban batin karena hasil kerja beberapa hari dengan biaya miliaran lenyap seketika. Karena kejadian itu sesungguhnya bisa dihindari bila awal pelaksanaan pembangunan jembatan itu ditunda sampai musim kemarau tiba beberapa bulan lagi. Itulah rekomendasi dari para perancang. Namun rekomendasi itu diabaikan, konon demi mengejar waktu. Maksudnya. Pengusaha yang punyai proyek dan para pemimpin politik lokal menghendaki jembatan itu selesai sebelum pemilu 1992. Karena, menurut Kabul, peresmiannya akan dimanfaatkan sebagai ajang kampanye partai golongan penguasa saat itu. Menyebalkan. Dan inilah akibatnya bila perhitungan teknis-ilmiah dikalahkan oleh perhitungan politik. Karena, kerugian akibat banjir ini bisa menjadikan alasan untuk meminta biaya tambahan, dan hal ini berarti kesempatan baru untuk menggelumbungkan anggaran proyek. Semoga jaman sekarang ini, tidak terulang lagi.

            Hati Kabul pun tertusuk, mendapat sindiran yang justru lebih menghujam dari Pak Tarya, warga setempat sekaligus teman “curhat” sang insinyur muda ini. “ Ah, kami rakyat kecil tahu kok, apa arti pengelembungan biaya bagi orang-orang proyek”. Pak Tarya ingin mengatakan orang-orang proyek adalah manusia-manusia yang suka main curang. Korup dengan berbagai cara dan gaya. Tapi apakah Pak Tarya salah? Jujur, kabul meresa sindiran halus Pak Tarya lebih banyak benarnya. “Atau benar semuanya bila aku, Kabul ikut-ikutan suka makan uang proyek. Tapi bagaimana meyakinkan Pak Tarya bahwa aku tidak ingin seperti mereka?”  

            Pada suatu dialog lainnya. Pak Tarya mencoba menjawab pertanyaan Kabul; Mengapa beberapa penduduk di sini suka menyuap kuli-kuli untuk, mendapat, atau tepatnya dicurikan semen? Bukankah, selama ini kita menganggap orang kampung lugu, bersih, tidak “melik” terhadap barang orang lain?” He..he..he…., itu dulu, Mas Kabul. Sekarang, lain. Orang-orang kampung menganggap, misalnya mengambil aspal dari pinggir jalan adalah perkara biasa. Bila ketahuan, ya mereka akan membelikan rokok buat pak mandor. Selesai. Atau, mereka tak merasa bersalah karena tahu banyak pagar makan tanaman. Jadi kalau kuli-kuli Anda mencuri semen dan orang kampung jadi penadahnya, apa aneh?.

            Ah, Mas Kabul pura-pura lupa bahwa pada dasarnya kebanyakan orang masih dilekati watak primitif, yakni lebih mementingkan diri sendiri alias serakah. Ada rasa kecut di hati ketika menyadari apa yang dimaksud oleh Pak Tarya bila dirangkai dengan angka kebocoran anggaran proyek yang konon mencapai 30 sampai 40 persen itu. Primitif, mementingkan diri sendiri, serakah. Itulah akar persoalan? Rasanya memang begitu. Dan bila si primitif tadi adalah orang kampung di sekitar proyek yang miskin dan kurang terdidik, harap maklum. Namun kalau si primitif tadi adalah menteri, dirjen, kakanwil, pemki dan seterusnya? Apa mereka tidak mencak-mencak bila dikatakan primitif?

            Tanpa terasa proyek sudah berjalan tiga bulan. Namun karena dimulai ketika hujan masih sering turun, maka progres pekerjaan yang dicapai di rada di bawah target. Menghadapi kenyataan ini Kabul sering uring-uringan. Jengkel karena hambatan ini sesungguhnya bisa dihindari bila pemerintah sebagai pemilik proyek dan para politikus tidak terlalu banyak campur tangan dalam tingkat pelaksanaan.

            Dan campur tangan ini ternyata tidak terbatas pada penentuan awal pekerjaan yang menyalahi rekomendasi para perancang, tapi masuk juga ke hal-hal lain. Proyek ini, dibiayai dengan dana pinjaman luar negeri dan akan menjadi beban masyarakat, mereka anggap sebagai milik pribadi. Kabul tahu bagaimana bendaharaan proyek wajib mengeluarkan dana untuk kegiatan partai golongan penguasa. Kendaraan-kendaraan proyek wajib ikut meramaikan perayaan HUT golongan itu. Malah pernah terjadi pelaksana proyek diminta mengeraskan jalan yang menuju rumah seorang ketua partai golongan karena tokoh itu akan punya hajat. Bukan hanya mengeraskan jalan melainkan juga memasang “tarup”. Belum lagi dengan oknum sipil maupun militer, juga oknum-oknum anggota DPRD yang suka minta uang saku kepada bendaharaan proyek kalau mereka mau plesir keluar daerah.

            Dan ternyata orang-orang kampung pun ikut-ikutan nakal. Bila mereka hanya minta ikut memakai kayu-kayu bekas atau meminjam generator cadangan untuk keperluan perhelatan, masih wajar. Tapi kenakalan mereka lebih jauh. Mungkin karena tahu banyak priyayi yang ”ngiwung” barang, uang atau fasilitas proyek mereka pun tak mau ketinggalan. Selain menyuap kuli untuk mendapatkan semen, paku, kawat ikat, mereka juga sering meminta besi potongan, kata mereka, untuk membuat linggis.

            Mandor yang mencatat penerimaan material pun pandai bermain. Dia bisa bermain dengan menambah angka jumlah pasir atau batu kali yang masuk. Truk yang masuk sepuluh kali  bisa dicatat menjadi lima belas kali dan untuk kecurangan ini dia menerima suap dari para sopir.

SEPERTI APAKAH, TEKNIK SIPIL ITU.?

8 Maret 2013 1 komentar

 

Apa Itu Teknik Sipil?

Teknik Sipil adalah suatu disiplin ilmu keteknikan/rekayasa yang berkaitan dengan perencanaan, konstruksi, dan perawatan struktur tertentu, serta merenovasi tidak hanya suatu bangunan dan infrastruktur, tetapi juga mencakup lingkungan untuk kemaslahatan hidup manusia.

Selain cakupan bidang di atas, ahli Teknik Sipil juga dapat berkecimpung di bidang lain seperti yang berkaitan dengan informatika, memungkinkan untuk memodelisasi sebuah bentuk dengan bantuan program CAD, pemodelan kerusakan akibat gempa, banjir, dan bencana lainnya. Peran ahli Teknik Sipil juga masih berlaku walaupun fase pembangunan sebuah gedung telah selesai, seperti terletak pada pemeliharaan fasilitas gedung tersebut.

Apa Saja Yang Dipelajari di Teknik Sipil?

Pada prinsipnya ilmu yang banyak dipelajari pada Teknik Sipil berkaitan dengan ilmu fisika terapan, terutama ilmu mekanika. Selain mempelajari ilmu-ilmu teknis untuk keperluan merancang, membangun dan memelihara struktur bangunan, mahasiswa juga akan mempelajari berbagai aspek manajemen konstruksi bangunan seperti mengelola pelaksanaan konstruksi dengan baik (mengatur jadwal kerja, mengatur pekerja, bahan dan peralatan), sesuai dengan prinsip-prinsip efisiensi dan efektivitas dalam pengunaan berbagai sumber daya, serta tetap menjaga dan memenuhi ketentuan lingkungan. Terdapat beberapa bidang kelompok keahlian/keilmuan yang dapat dipilih oleh mahasiswa Teknik Sipil diantaranya adalah: Struktural, Geoteknik, Manajemen Konstruksi, Hidro dan Lingkungan, Transportasi, dan Informatika Teknik Sipil.

Prospek Lulusan Teknik Sipil

Jenis-jenis pekerjaan yang merupakan peluang pasar kerja lulusan Teknik Sipil antara lain adalah:

  1. Bidang Pembangunan Infrastruktur. Seorang lulusan Teknik Sipil dapat berprofesi sebagai konsultan atau sebagai kontraktor yang bertanggung jawab melaksanakan pembangunan.
  2. Bidang Pemerintahan. Peluang lainnya adalah bekerja sebagai pegawai dalam bidang pengaturan dan kebijakan di instansi pemerintahan, seperti di Departemen dan Dinas PU, PMU-Bina Marga, Departemen ESDM, Dinas Tata Kota & Pertamanan di Tiap Propinsi, Bapenas, Bapeda dll.
  3. Bidang Industri Energi, Pertambangan dan Pengolahan. Lulusan Teknik Sipil dapat bekerja sebagai staf/manager pemasaran, Manager dan CEO (Chief Executive Officer), Quality Auditor dan Quality Assurance Manager, untuk perusahaan properti dan pabrik bahan konstruksi di berbagai perusahaan di lingkungan industri migas, pertambangan, dan pengolahan seperti Pertamina, Schlumberger, PLN, Freeport, INCO, Pupuk Kaltim dll.
  4. Bidang Pendidikan. Seorang lulusan Teknik Sipil dapat menjadi pengajar/peneliti di perguruan tinggi/lembaga pendidikan atau di pusat-pusat penelitian.
  5. Bidang lainnya. Lulusan Teknik Sipil juga mempunyai kemampuan yang cukup bersaing untuk bekerja di berbagai bidang non-keteknikan, seperti perbankan dan asuransi, notaris, atau berkarier di bidang-bidang lainnya.
    (Diambil dari berbagai sumber)

Teknik Sipil

20 November 2011 1 komentar

Teknik sipil adalah salah satu cabang ilmu teknik yang mempelajari tentang bagaimana merancang, membangun, merenovasi tidak hanya gedung dan infrastruktur, tetapi juga mencakup lingkungan untuk kemaslahatan hidup manusia.

Teknik sipil mempunyai ruang lingkup yang luas, di dalamnya pengetahuan matematika, fisika, kimia, biologi, geologi, lingkungan hingga komputer mempunyai peranannya masing-masing. Teknik sipil dikembangkan sejalan dengan tingkat kebutuhan manusia dan pergerakannya, hingga bisa dikatakan ilmu ini bisa mengubah sebuah hutan menjadi kota besar.

Daftar isi

   

Cabang-cabang ilmu teknik sipil

  • Struktural: Cabang yang mempelajari masalah struktural dari materi yang digunakan untuk pembangunan. Sebuah bentuk bangunan mungkin dibuat dari beberapa pilihan jenis material seperti baja, beton, kayu, kaca atau bahan lainnya. Setiap bahan tersebut mempunyai karakteristik masing-masing. Ilmu bidang struktural mempelajari sifat-sifat material itu sehingga pada akhirnya dapat dipilih material mana yang cocok untuk jenis bangunan tersebut. Dalam bidang ini dipelajari lebih mendalam hal yang berkaitan dengan perencanaan struktur bangunan, jalan, jembatan, terowongan dari pembangunan pondasi hingga bangunan siap digunakan.
  • Geoteknik: Cabang yang mempelajari struktur dan sifat berbagai macam tanah dalam menopang suatu bangunan yang akan berdiri di atasnya. Cakupannya dapat berupa investigasi lapangan yang merupakan penyelidikan keadaan-keadaan tanah suatu daerah dan diperkuat dengan penyelidikan laboratorium.
  • Manajemen Konstruksi: Cabang yang mempelajari masalah dalam proyek konstruksi yang berkaitan dengan ekonomi, penjadwalan pekerjaan, pengembalian modal, biaya proyek, semua hal yang berkaitan dengan hukum dan perizinan bangunan hingga pengorganisasian pekerjaan di lapangan sehingga diharapkan bangunan tersebut selesai tepat waktu.
  • Hidrologi: Cabang yang mempelajari air, distribusi, pengendalian dan permasalahannya. Mencakup bidang ini antara lain cabang ilmu hidrologi air (berkenaan dengan cuaca, curah hujan, debit air sebuah sungai dsb), hidrolika (sifat material air, tekanan air, gaya dorong air dsb) dan bangunan air seperti pelabuhan, irigasi, waduk/bendungan(dam), kanal.
  • Teknik Lingkungan: Cabang yang mempelajari permasalahan-permasalahan dan isu lingkungan. Mencakup bidang ini antara lain penyediaan sarana dan prasarana air besih, pengelolaan limbah dan air kotor, pencemaran sungai, polusi suara dan udara hingga teknik penyehatan.
  • Transportasi: Cabang yang mempelajari mengenai sistem transportasi dalam perencanaan dan pelaksanaannya. Mencakup bidang ini antara lain konstruksi dan pengaturan jalan raya, konstruksi bandar udara, terminal, stasiun dan manajemennya.
  • Informatika Teknik Sipil: Cabang baru yang mempelajari penerapan Komputer untuk perhitungan/pemodelan sebuah sistem dalam proyek Pembangunan atau Penelitian. Mencakup bidang ini antara lain dicontohkan berupa pemodelan Struktur Bangunan (Struktural dari Materi atau CAD), pemodelan pergerakan air tanah atau limbah, pemodelan lingkungan dengan Teknologi GIS (Geographic information system).

Keluasan cabang dari teknik sipil ini membuatnya sangat fleksibel di dalam dunia kerja. Profesi yang didapat dari seorang ahli bidang ini antara lain: perancangan/pelaksana pembangunan/pemeliharaan prasarana jalan, jembatan, terowongan, gedung, bandar udara, lalu lintas (darat, laut, udara), sistem jaringan kanal, drainase, irigasi, perumahan, gedung, minimalisasi kerugian gempa, perlindungan lingkungan, penyediaan air bersih, survey lahan, konsep finansial dari proyek, manajemen projek dsb. Semua aspek kehidupan tercangkup dalam muatan ilmu teknik sipil.

Perbedaan dari arsitek, terletak pada posisi ahli teknik sipil dalam sebuah proyek. Arsitek menyumbangkan rancangan, ide, kemungkinan pelaksanaan pembangunan di atas kertas. Hasil rancangan tersebut diserahkan selanjutnya kepada staf ahli bidang teknik sipil untuk pelaksanaan pembangunan. Tahapan ini, ahli teknik sipil melakukan perbaikan/saran dari pelaksanaan perencanaan, koordinasi dalam proyek, mengamati jalannya proyek agar sesuai dengan perencanaan. Selain itu, ahli teknik sipil juga membangun konsep finansial dan manajemen proyek atas hal-hal yang memengaruhi jalannya proyek.

Ahli teknik sipil tidak hanya berurusan dengan pembangunan sebuah proyek bangunan, tetapi di bidang lain seperti yang berkaitan dengan informatika, memungkinkan untuk memodelisasi sebuah bentuk dengan bantuan program CAD, pemodelan kerusakan akibat gempa, banjir. Hal ini sangat penting di negara maju sebagai tolak ukur kelayakan pembangunan sebuah bangunan vital yang mempunyai risiko dapat menelan korban banyak manusia seperti reaktor nuklir atau bendungan, jika terjadi kegagalan perencanaan teknis. Rancangan bangunan tersebut biasanya dimodelkan dalam komputer dengan diberikan faktor-faktor ancaman bangunan tersebut seperti gempa dan keruntuhan struktur material. Peran ahli teknik sipil juga masih berlaku walaupun fase pembangunan sebuah gedung telah selesai, seperti terletak pada pemeliharaan fasilitas gedung tersebut.

Materi utama

Aplikasi ilmu teknik sipil di Indonesia

Tokoh teknik sipil Indonesia

Source : http://id.wikipedia.org/

Kategori:Teknik Sipil Tag: