Arsip

Posts Tagged ‘Kutai Kartanegara’

Sejarah Kabupaten Kutai Kartanegara

8 Maret 2013 2 komentar

 

Kabupaten Kutai merupakan kelanjutan dari Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Setelah Republik Indonesia berdiri, pada tahun 1947 Kesultanan Kutai Kartanegara dengan status Daerah Swapraja Kutai masuk kedalam Federasi Kalimantan Timur bersama-sama daerah Kesultanan lainnya seperti Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur dan Pasir. Kemudian pada 27 Desember 1949 masuk dalam Republik Indonesia Serikat.

Daerah Swapraja Kutai diubah menjadi Daerah Istimewa Kutai yang merupakan daerah otonom/daerah istimewa tingkat kabupaten berdasarkan UU Darurat No.3 Th.1953.

Berdasarkan UU No.27 Tahun 1959, status Daerah Istimewa Kutai dihapus dan daerah ini dibagi menjadi 3 Daerah Tingkat II, yakni:
1. Kotamadya Balikpapan dengan ibukota Balikpapan
2. Kotamadya Samarinda dengan ibukota Samarinda
3. Kabupaten Kutai dengan ibukota Tenggarong

Pada tahun 1995 Kabupaten Kutai menjadi salah satu Daerah Percontohan Pelaksanaan Otonomi Daerah, berdasarkan PP No.8 Tahun 1995 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan Kepada Daerah Tingkat II Percontohan.

Pada tahun 1999, wilayah Kabupaten Kutai dimekarkan menjadi 4 daerah otonom berdasarkan UU No.47 Th.1999, yakni:
1. Kabupaten Kutai dengan ibukota Tenggarong
2. Kabupaten Kutai Barat dengan ibukota Sendawar
3. Kabupaten Kutai Timur dengan ibukota Sangatta
4. Kota Bontang dengan ibukota Bontang

Istilah Kabupaten Kutai Induk sering digunakan untuk membedakan antara Kabupaten Kutai hasil pemekaran dengan Kabupaten Kutai yang lama. Pada Musyawarah Nasional yang pertama APKASI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia) yang diadakan di Tenggarong pada tahun 2000, Presiden RI Abdurrahman Wahid yang membuka Munas tersebut mengusulkan agar Kabupaten Kutai hasil pemekaran menggunakan nama Kabupaten Kutai Kartanegara, mengingat kota Tenggarong juga merupakan ibukota dari Kesultanan Kutai Kartanegara.

Tanggal 23 Maret 2002, Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri menetapkan penggunaan nama Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Peraturan Pemerintah RI No. 8 Tahun 2002 tentang "Perubahan Nama Kabupaten Kutai Menjadi Kabupaten Kutai Kartanegara".

Sumber :  http://dpukukar.triasta.com/cont.php?cid=3

Iklan

SEJARAH KERAJAAN KUTAI MARTAPURA (MARTADIPURA)

13 November 2011 1 komentar
SEJARAH KERAJAAN KUTAI MARTAPURA (MARTADIPURA)

ilustrasi upacara bauswarnakam oleh sri mulawarman

Masa Kerajaan Kutai Martapura

(Muara Kaman Dari Tahun 350-1605 M)

Kerajaan ini dulunya Bernama Qwitaire Maradapur (Kutai Martapura) didirikan dalam tahun 400 M oleh Maharaja Sri Mulawarman Naladewa Cucu Dari Penghulu Negeri Bakulapura Bernama Kundungga Keturunan Warga Sungga memerintah (350M), Yang Bermenantukan Maharaja Sri Acwawarman  (Wamsekerta) memerintah (375M) Penegak Derajat Pendiri Dinasty dan Kerajaan  ini runtuh dalam Tahun 1605 M.

 

KAJIAN TENTANG SEJARAH KERAJAAN KUTAI MARTAPURA

Tentang Prasasti Yupa.

     Pembahasan, mengenai penemuan 7 buah prasasti peninggalan Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman, yang dikatakan sebagai kerajaan tertua di Nusantara dan merupakan Kerajaan Hindu pertama di Indonesia sudah cukup jelas kita ketengahkan dan sewajarnya kita ungkapkan karena telah dibahas dan diteliti secara mendalam. Bagaimana kita ketahui bahwa pada tahun 1870 adanya suatu penelitian di Muara Kaman, karena adanya penemuan-penemuan berupa benda-benda yang menyangkut sejarah Kerajaan Kutai Martapura yang selalu disebut-sebut dengan nama Kerajaan Kutai Mulawarman. Adapun benda-benda yang diketemukan pada tahun 1870, tersebut antara lain : 4 buah tugu (Batu Prasasti yang disebut Yupa), dua Buah Lencana Kerajaan yang terbuat dari Emas dan Patung Kura-Kura Emas yang disimpan oleh seorang keturunan Raja-Raja di Muara Kaman,  menurut berita pada tanggal, 3 Juni 1879, K.F. Holle yang tertarik dengan penemuan Perasasti Yupa tersebut melaksanakan pertemuan di Batavia (Jakarta Sekarang) guna meneliti lebih jelas tentang perasasti yupa yang ditemukan di Muara Kaman tersebut.

Pada Tanggal, 13 September 1880, Kren telah pula mengadakan pertemuan di Royal Academy Of Sciences di Amesterdam Belanda, dalam pesentasinya Kren berpendapat bahwa Yupa adalah sebuah perasati pendirian sebuah Negara yang berbentuk kerajaan, maka oleh J.Pn.Vogel transkripsi yupa diteliti secara seksama yang dibantu oleh F.D.K Bosch, dan beberapa epigraf dari India Selatan yakni Fleet, Hultzsch, serta Vankayya. Hasilnya belum cukup memuaskan. Sehingga pada tahun 1939, diadakan peneltian di Muara Kaman dan menemukan 3 Buah Prasasti Raja Mulawarman yang disebutkan berasal dari abat ke-IV, karemana meliat tulisan yang digunakan pada tugu batu tersebut adalah huruf Pallawa dan menggunakan bahasa Sangsekerta Kuno dari India Selatan.Guna memperjelas tentang pengkajian prasasti yupa pada tahun 1952, diadakan perbaikan dalam pembacaan dan penerjemahanya oleh Raden Mas Ng. Poerbatjaraka yang mengatakan bahwa tulisan-tulisan tersebut menggambarkan beberapa hal tentang Kurban dalam sebuah acara kenegaraan dan kurban-kurban yang bersangkutan dengan acara ritual agama Hindu, Menurut seorang pakar sejarah bernama Ny.Soeleman mengatakan bahwa didalam batu prasasti yupa ada menyebutkan kata Vavrakecvara yang diartikan lapangan luas tempat upacara kurban maka dalam pengkajian tersebut (Rajah Cri Mala Varmanah Danam Puyatane Ksetrei Yadattam Varakecvare) yang dikatakan Bahwa Sang Raja Sri Mulawarman yang amat mulia dan terkemuka telah mengadakan kurban bertempat didalam Varakecvare, (lapangan luas) tempat upacara sedekah yang disebut Upacara Bahuswarnakam yaitu kurban hadiah Sapi dan Emas.  Tulisan prasasti yupa yang kami kemukakan disini 2 buah dibahas dalam bahasa sansekerta 5 buah dibahas dalam bahasa Inggris, sebagai berikut :

 

Tulisan Pertama :

……cri mantah cri narendraasya mahat manah putro cvabharmo vikhya tan vancakarta yathancuman tasya putro mahat manah trayas-trayas ivagnayah tssan trayanam pravarah tapa bola danavitah cri mala varmanah rajendro yastava bahusvan akam yajnasya jupoyam dwijen drais sampra kalpita………….

Diartikan :

Sang Raja Kudungga yang mempunyai putra wamsakarta, melahirkan tiga putra seperti api sinarnya dan menjadi raja-raja berkuasa diwilayahnya dan yang paling terkenal adalah Maharaja Sri Mulawarman Nala Dewa yang mengadakan kurban besar dan memberi sedekah emas kepada para berahmana yang datang ketempat itu, sehingga dia diyatakan kuat dalam berkuasa.

 

Tulisan Kedua :

…… cri manto nrpa much yasa rajah cri mula varmanah danam puyatane ksetrei yadattam varakecevare dvi jatibhyo geni kalpebhyah vuncater gg osahestii kam tasya punyasya yupoyam kerto vidrair ihagataih………..

Diartikan :

Sang Raja Sri Mulawarman raja yang mulia dan terkemuka telah memberikan sedekah berupa 20.000 ekor sapi kepara Berahmana sedekah itu ditempatkan dalam varakecvare sebagai peringatan atas kebaikan sang raja Sri Mulawarman dibuatlah tugu tiang pemujaan.

 

Tulisan Ketiga :

The illustrious monarch Mulawarman, having conquered (other) Kings iu the battlefield, made them his tributaries, as did kings Yudhisthira. At waprwkecwara he donmet forty thousand…..he again donated thirty thousand. The pious king once again (ferforomed ?) Jivandana of different kinds and illumination in his own town……by the pious one. This Yupa has been ereeted by the Berahmanas who have come here (from) different (parts).

Diartikan:

Sang Raja Mulawarman menaklukan raja-raja di medan perang, mereka harus membayar upeti sebagai mana yang dilakukan oleh raja Yudhisthira di waprwkecwara, ia mendarmakan empat puluh ribu……kemudian tigapuluh ribu. Mulawarman seorang raja saleh meyelengarakan Jiwandana yang berbeda-beda dan penerangan dikotanya……oleh seorang yang alim. Yupa sudah didirikan oleh Berahmana-Berahmana yang datang kesini dari berbagai daerah.

 

Tulisan Keempat :

Hail to the mighty king, the illustrious Mulawarman of exalted rank, whouse gigts have been recorded at this holy spot after he, the most excellent king, has betowed on Brahmanas the gifts of water, ghee, tawny cows and sesame seeds as well as eleven bulls.

Diartikan :

Menyambut raja yang kuat, Mulawarman seorang raja agung dan termashur telah mendarmakan peristiwa ini telah dicatat ditempat yang suci. Mulawarman telah memberikan kepada Berahmana-berahmana hadiah air, miyak, sapi yang berwarna kekuning-kuningan dan biji wijen dan juga sebelas ekor sapi jantan.

 

Tulisan Kelima :

As Bhageratha was brn on king segara………Mulawarman………

Diartikan :

Karena Bhageratha dilahirkan oleh Raja Segara…….Mulawarman……(tulisan pada prasasti ini banyak yang rusak dan tidak terbaca.

 

Tulisan Keenam :

Let the foremost amongst the priest and whatsoever other pions men hear of the meritorious deed of Mulawarman, the king of illustrious and resplendent fame of his greaft of cottle, his gift of a wonder trce, his of land. For this multitudes of pious deeds this sacrificial post has been set up by priest.

Diartikan :

Dengarkanlah oleh kaum sekalian. Berahmana yang terkemuka dan sekalian orang baik lain-lainnya, tentang kebaikan budi sang Mulawarman, raja besar yang sangat mulia. Kebaikan budi ini ialah berwujud sedekah kehidupan atau semata-mata pohon kalpa (yang memberi segala keinginan), dengan sedekah tanah (yang dihadiahkan). Berhubung dengan semua kebaikan itulah tugu ini didirikan oleh para berahmana (buat peringatan).

 

Tulisan Ketujuh :

The illustrios king Mulawarman gave away in charity a heap of sesame seeds together with a multitude this yupa has heen engraved upon of those two.

Diartikan :

Tugu ini ditulis buat (peringatan) dua perkara yang telah disedekahkan oleh sang raja Mulawarman, yakni gunung miyak (kental) dengan lampu serta malai bunga.

 

Tentang Kerajaan Hindu Pertama di Indonesia.

Kerajaan Kutai Martapura adalah kerajaan Hindu pertama di Indonesia, bagaimana dikatakan bahwa agama Hindu telah menyebar dari abad ke-II dan III tahun masehi dibawa oleh penganut agama itu sendiri, maka tidak pernah agama itu dibawa dalam penyebaran dengan suatu peperangan dalam artian agama itu dibawa dengan jalan damai melalui penganutnya yang rata-rata sebagai saudagar, pedagang dan lain sebagainya mereka menetap didaerah-daerah wilayah Indonesia dan terjadilah akultulasi pembauran kebudayaan dan kepercayaan, Corak Hindu di Indonesia dimulainya dengan munculnya kerajaan Kutai Martapura, Menurut seorang pujangga dari India bernama Walmaliki dalam sebuah kidungnya bernama Ramayana, dia menggambarkan negeri yang kaya menghasilkan logam, serta tumbuh-tumbuhan serta menjadikan daerah itu menjadi perhatian bangsa Hindu (India), Yunani dan Tiongkok dan mulailah adanya suatu gejala politik berupa pendirian kampung-kampung kemudian menjadi hiasan tujuh Negara di Nusa Emas dan Perak, maksud dari itu dapat diartikan Kerajaan Kutai

Pada masa petalihan masyarakat kepulauan Indonesia, mendapat corak yang luar biasa karena telah berlangsungnya pertemuan dua peradaban yang maju yakni corak budaya Hindu dan Budha dengan corak budaya asli yang dimiliki bangsa Indonesia yang berpusat pada tenaga tuah dan kesaktian.

Mengenai penebaran budaya asli  Indonesia menurut seorang bernama Van Helne Geldern sejak 4050 tahun yang lalu, yang meninggalkan sipat-sipat pelaut dan cara bertani serta berbahasa dan kebudayaan lainya itu berasal dari hulu sungai Hoang-Ho dan Jang Tse serta sungai Kiang dan Mekhong (Cina) sedangkan pengaruh dari Sungai Berahmana Putra, dan sungai Irwadi (India) semula berasal dari Semenanjung (Malaysia), menuju Kalimantan, dan ke-Filipina, kepulauan Formosa, Jepang, pulau Sumatra dan Jawa serta Irian. Kepulauan Nusantara pada zaman itu disebut orang Yunani dengan nama La Badlon sedangkan orang Arab menyebutnya Sajabidja.

Bagai mana agama Hindu muncul yang menjadi agama kepercayaan masyarakat dalam kerajaan Kutai Martapura di Kalimantan,  Dengan pemikiran serta didasari dari pengkajian fiolosopis bahwa didalam yupa jelas telah menguraikan beberapa hal tentang kurban-kurban yang terkait dengan Agama Hindu yang dianut oleh Raja Mulawarman. Adapun upacara kenegaraaan Kerajaan Kutai Martapura seperti kurban Agatsya (Upacara pendirian dinasty), menjelaskan tentang keturunan, kurban Bahuswarnakam (Upacara pemberian hadiah harta berupa Emas), kurban Jivandana (Upacara hadiah jiwa berupa binatang Sapi), kurban Waprakeswaea (Upacara pembangunan tempat pemujaan berupa bangunan kuil atau candi), kurban Kalpa (Kalpataru) (Upacara penyerahan watas tanah serta penanaman pohon kehidupan), dimana dikatakan sang raja meanugerahkan miyak yang berasal dari pohon tengkawang dan biji wijen serta bunga melambangkan kerajaan yang diperintahya memiliki kekayaan berlimpah serta memiliki wilayah-wilayah yang dipimpin oleh para kepala negeri, kurban Bhagrtha (Upacara kemakmuran) dimana telah dinyalakanya lampu sebagai sulu penerang kehidupan rakyat yang dalam lindungan raja yang arib bijaksana telah melimpahkan harta bagi kepentingan rakyat yang diperintahnya, karena raja memiliki wilayah taklukan dan kekuasaan besar kurban tersebut dilaksanakan dan dihadiri oleh para Berahmana dari berbagai negeri seperti Berahmana dari Kerajaan Amarapati, Kerajaan Kalingga, Kerajaan Magadha, Kerajaan Sri Langka, Kerajaan Amatadipura, dan Kerajaan Campa hal ini didukung dari keterangan bahwa Kerajaan Kutai Martapura adalah sebagai kerajaan yang memiliki tambang Emas yang di ekplotasi untuk diperdagangkan melalui pedagang dari India yang menjadi pemasok emas ke Negara Yunani, Persia, Mesir, dan Eropa, emas tersebut didapat dari beberapa kepulauan seperti Naladwiva, Swarnadwipa, Yawadwipa, dan Papua, halnya orang-orang dari Campa (Kamboja) khusus didatangkan sebagai tenaga pencari emas (pekerja tambang) hal ini dibuktikan dengan adanya orang Dayak Tunjung adalah sisa-sisa orang Campa yang mendiami dataran tanah tunjung didaerah Pinang Sendawar (Melak) di Kalimantan Timur.

Mengenai tambang emas, didalam Ramayana diceritakan bahwa ……Yatnavanto yavadvipam saptarajyopacobhitam, suvarnarupyakadvipam suvarnakaramanditam, yavadvipam artikramya ciciromama partvatahdivam aprcati crngena devadanavasevitah…… artinya Selidikilah benar-benar kepulauan yang dihiasi tujuh kerajaan nusa emas dan perak dengan banyaknya bertebaran tambang-tambang emas (maksudnya Kepulauan Indonesia yang kaya akan emas).

Cerita ini terkait pada perintah Dewa Rama kepada beruk putih bernama Hanoman yang diberi tugas mencari Dewi Sita pada waktu diculik oleh Rahwana…etah apa cerita ini pula dikaitkan dengan Lencana Kerajaan Kutai Martapura yang bernama Uncal atau Ucele yang menurut berita dari duta besar hanya ada dua buah yang satunya masih ada di Sri Langka, bahwa benda tersebut adalah milik Dewa Rama dan Sinta sebagai penangkal sumpah Dewa yang menjelma sebagai binatang rusa yang dipanah oleh Dewa Rama didalam hutan dan mengutuknya, oleh sang Batara Guru, Dewa Rama dianugerahi jimat penangkal bala, yang kemudian diketahui jimat itu disebut Uncele.

Dimana kita ketahui bahwa kebudayaan Hindu dan Budha bermula dari bangsa Arya, yang berasal dari ras Indo-Jerman yang bermigerasi pada sekitar tahun 1500 SM, masuk ke India melalui celah Kaybar, sehingga mendesak bangsa Dravida serta menguasai daerah lembah sungai Indus dan sungai Gangga dan menjadikan pembauran kedua ras bangsa tersebut.

 

Silsilah Raja Kutai Martapura

Memerintah dari Tahun 350-1605 di Muara Kaman
DISADUR DARI KUMPULAN CATATAN A.IANSYAHRECHZA.F DALAM BUKU MEMBURU SEJARAH KUTAI 1996 .

1.     MAHARAJA SRI KUNDUNGGA ALIAS CRI GEDONGGA                                350-375

2.     MAHARAJA SRI ACWAWARMAN ALIAS WAMSEKERTA                              375-400

3.     MAHARAJA SRI MULAWARMAN NALADEWA ALIAS WAMSERAGEN           400-446

4.     MAHARAJA SRI WANGSA WARMAN                                                           446-495

5.     MAHARAJA MAHA WIJAYA WARMAN                                                         495-543

6.     MAHARAJA GAJA YANA WARMAN                                                              543-590

7.     MAHARAJA WIJAYA TUNGGA WARAMAN                                                   590-637

8.     MAHARAJA JAYA TUNGGA NAGAWARMAN                                                 637-686

9.     MAHARAJA NALA SINGAWARMAN                                                             686-736

10.   MAHARAJA NALA PERANA TUNGGA WARMANDEWA                                 736-783

11.   MAHARAJA GADINGGA WARMANDEWA                                                     783-832

12.   MAHARAJA INDRA WARMANDEWA                                                            832-879

13.   MAHARAJA SINGA WIRAMA WARMANDEWA                                              879-926

14.   MAHARAJA SINGA WARGALA WARMANDEWA                                            926-972

15.   MAHARAJA CENDERA WARMANDEWA                                                       972-1020

16.   MAHARAJA PRABU MULA TUNGGALDEWA                                                 1020-1069

17.   MAHARAJA NALA INDRADEWA                                                                  1069-1117

18.   MAHARATU MAYANG MULAWARNI  ALIAS PUTRI AJI PIDARA PUTIH          1117-1166

19.   MAHARAJA INDRA MULIA TUNGGA WARMANDEWA                                   1166-1214

20.   MAHARAJA SRI LANGGKADEWA                                                               1214-1265

21.   MAHARAJA GUNA PERANA TUNGGA                                                          1265-1325

22.   MAHARAJA NALA DUTA  (DEWAN RAJA PERWALIAN)                                1325-1337

23.   MAHARAJA PUAN RENIQ GELAR WIJAYA WARMAN                                   1337-1373

24.   MAHARAJA INDRA MULIA                                                                           1373-1407

25.   MAHARAJA SRI AJIDEWA                                                                          1407-1425

26.   MAHARAJA  MULIA PUTRA                                                                          1425-1453

27.   MAHARAJA NALA PRADITHA                                                                       1453-1509

28    MAHARAJA INDRA PARUTHA                                                                       1509-1534

29.   MAHARAJA DERMA SETIYA                                                                         1534-1605

 

Tentang Nama.
   Ulasan tentang sejarah nama Kerajaan Kutai Martapura dari asal mula pernamaan yang kita jadikan bahan pengkajian ilmiah yang kita kaitkan dengan cerita mistis batin keberadaan Kerajaan Kutai Martapura, didalam kitab Mahabarata dan Ramayana, dijumpai nama pulau Kalimantan disebut Naladwipa dan daerahnya bernama Qwitaire dan kerajaanya bernama Maradavure.
Bagaimanapun mengenai nama-nama tersebut dalam mistis batin Kerajaan Kutai Martapura, dapat kita ambil dari sebuah bahasa, memang dan besawai serta bedondang, yang merupakan pengantar bahasa hubungan antara alam nyata dan alam gaib. Didalam sebuah memang dijumpainya kata Maruat Wanua Maradapur (Membuat Kota Martapura) Kalimantan (Indonesia) dan Gaganesware cri Cala Campare Nagari Perak Gemilang Kaca dapat diartikan bahwa bahwa Raja-raja tersebut datang dari (Cricala) India yang bagaikan burung raja wali (Garuda) mengarungi cakrawala dan membangun Negeri Perak di Malaya (Malaysia), Serta Negeri (Gemilang Kaca) Campa (Kamboja).

Asal nama pulau Kalimantan di kaji dalam beberapa hal, mengenai sebutan Kalimantan berarti, (Mantan Sungai) sekarang ada tiga sungai yang dikenal dipulau ini yaitu Sungai Mahakam (Kaltim), Sungai Barito (Kalsel) dan Sungai Kapuas (Kalteng) tidak heran di pulau Kalimantan membentang ribuan anak sungai yang semuanya memiliki nama namun mari kita kembali kepada asal nama pulau Kalimantan itu sendiri dikatakan bahwa sebutan orang Hindu menamakan pulau ini Naladwiva, orang Belanda menyebutnya Borneo pastilah ada hal yang menyangkut nama-nama tersebut yang akhirnya di sebut Kalimantan.

Mengenai nama Qwitaire bearti hutan belantara, asal nama Kutai juga mengalami beberapa kali perubahan misalnya orang Cina menyebutnya Kho-Thay bearti Bandar Besar (Kota Besar), penyebutan ini sejaman pemerintahan Maharaja Nala Indra Dewa yang berperang dengan pangeran Cina dalam tahun 1117 M, sedangkan pada waktu Raja Majapahit menbangun pangkalan militer di Muara Sungai Mahakam daerah tersebut disebut Tanjung Kute dikepalai oleh seorang Batara bernama Raden Koesuma adik tiri Raden Widjaya yang kemudian dikenal dengan nama Aji Batara Agung Dewa Sakti yang membangun Kerajaan Kutai Kartanegara.

 

Mengenai Nama Pulau Kalimantan Banyak Mendapat, Tafsiran sebagai Berikut :
– Wanua Pura, diartikan Dalam Logat Lain Borneo adalah Barune.
– Bakulapura, diartikan Pulau Yang Banyak Memiliki Tanjung di tapsikan dalam Nama Kerajaan   
   Tanjungpura.
– Tanjung Negara Sebutan Majapahit Kepada Pulau Kalimantan dalam Negarakretagama yang
   mencakupi Kepulauan Sulu di Filipina.
– Hujung Tanah sebutan Pulau Kalimantan  dalam Hikayat Banjar dan Hikayat Raja Pasai di 
   Sumatra.
– Nusa Kencana sebutan Pulau Kalimantan dalam Ramalan Prabu Jayabaya pada akhir Majapahit 
   akan Menguasai Tanah Jawa Oleh Yakni Bangsa Jepang yang dating Dari arah Nusa Kencana.
– Jaba Daje artinya Jawa Diutara dari Pulau Madura ini merupakan Sebutan Suku Madura atas
   Pulau Kalimantan.
-  Kalimantan berasal dari dua kosa kata Kali – Mantan jika menurut dalam logat Bahasa 
   Indonesia adalah (Mantan berati Bekas dan Kali berate Sungai) bagai Manapun pulau ini di
   Dalam Negara Indonesia disebut Pulau Kalimantan.

 

Source : http://kutaihulu.blogspot.com/2011/08/kerajaan-kutai-martapura-martadipura.html

Perjalanan Hidupku Part 3

Kutai Kartanegara, 12 Agustus 2006

Setelah selama lebih kurang 14 Bulan di Cilegon Banten…….Eh, Perusahaanku mendapatkan proyek Powerplantku ke 3 di daerah Tanjung Harapan – Sebulu Kab Kukar Kaltim. Untuk pabrik kayu di seberang sungai Mahakam. Berkapasitas 2 x 7,5 MW . Milik PT Sumalindo Lestari Jaya atau yang lebih dikenal dgn PT SLJ dengan dukungan PT Kalimantan Powerindo Jakarta sebagai Pengelola Powerplant tsb. Dari Bandara Adisucipto Jogja, Tim yang terdiri dari Mr. Leo, Mr Andi Jablay dan Aku sendiri berangkat menuju Balikpapan. Tiba di balikpapan sekitar sore jam 3 waktu setempat. Di bandara balikpapan kami sudah di jemput teman satu tim yang bernama Mr Musa. Setelah melakukan perjalanan selama hampir 2,5 jam, kira kira hampir senja kami sampai ke Kota Tepian Mahakam yaitu Samarinda. Baru kali ini aku melihat sungai begitu lebar dan besar…yaitu sungai mahakam. Disana penduduk setempat menyebutnya laut. Pertama ya aku heran…ini sungai kok disebut dengan laut?

Dari kota Samarinda, kami meluncur ke arah tenggarong levat jalan baru. Sebelum sampai kota Tenggarong Ibukota Kukar, aku melihat sebuah hasil karya anak bangsa……yang membuat aku Takjub, Jembatan Tenggarong….seperti Jembatan California. menghubungkan Tenggarong Sebrang ke Tengarong. dengan menggunakan  kekuatan tali Tendon jembatan ini digantung……Waktu menunjukkan pukul 19.30 wita, Lampu sepanjan Jembatan tampak megah. Aku tengok kanan jalan….sebuah Patung Lembuswana di atas Pulau Kumala…..sebuah legenda masyarakat setempat bahwa Pulau Kumala dahulu adalah kapal penjajah belanda yang kalah oleh Raja Kutai KArtanegara…..Indah betul dan memang bentuk Pulau Kumala menyerupai sebuah Kapal………………………………

Perjalanan belum selesai, dari Kota Tenggarong kami meluncur menuju lokasi proyek, jauh kedalam masuk melewati Hutan kayu kiri dan kanan. Perjalanan kami tempuh selama 3 jam. Melewati jalan tambang batu bara yang masih berupa tanah liat biasa…….banyak Truk2 pengangkut Batubara yang bernama Houling tsb. Setinggi 3 mt mungkin kali…besar bgt itu truk gumanku.

Sampai dilokasi sekitar pukul 22.30 wita,disebarang lokasi Proyek.  Padahal masih harus menyebrang menggunakan Kapal Feri.  Betul2 kalimantan ternyata saya ini……..

Di daerah sisi kami kerjakan Powerplant sampai sekitar bulan Juli di tahun 2007……banyak sekali kenangan di sini. Dan dari sini pula sejarah hidupku mulai dari baru………..disana aku berkenalan dengan seorang Gadis Asli keturunan Suku Kutai Dayak……Yang tampak cantik dan manis bagiku……bernama Henny Puspitasari, akan seorang Bapak Haji yang lagi kuliah di Perguruan Tinggi Negeri di kota Samarinda. Tetapi dia lbh banyak tinggal di Kota Samarinda dan Aku di kota Tenggarong Kukar. Hubungan kami hanya sebatas kenalan dan teman biasa awal mulanya…..

Di sini kami selama lebih kurang antara bulan Agustus 2006 sd Mei 2007.

Banyak sekali kenangan di sini, karena di sinilah aku bertemu dengan Belahan Jiwaku yang aku cari selama ini………….Yang buat aku jatuh hati kepadanya

Nugroho di Jembatan Tenggarong

PLTU 2 x 7,5 MW PT. Sumalindo Lestari Jaya

Kutai Kartanegara – Kaltim

12  Agustus 2006 sd 25 Mei 2007

Dari sinilah perjalanan Hidupku berawal…

Tampak gadis bepakaian Pink bernama

Henny Puspitasari penduduk asli Kutai Dayak

yang membuat hati ini jatuh cinta kepadanya.