Teknik “5 Whys “ dalam mencari Akar Masalah dalam dunia proyek

18 Maret 2013 1 komentar

Setelah 180 hari bergelut Rep. Powerplant 7, pagi ini, Om Boss  marah gara-gara masalah yang sepele tetapi penting bagi kontraktor lain yaitu  masalah foundation yang sudah terselesaikan 1 bulan yang lalu belum di erection steel structurenya.

Cerita di atas hanya salah satu contoh, dimana dalam keseharian, lebih sering mendahulukan marah daripada memecahkan suatu masalah. Daripada cepet tua gara-gara keseringan marah, lebih baik kita cari akar masalah di atas dengan teknik 5 whys ( mengapa ). Teknik ini sangat sederhana dalam mencari akal permasalahan, cukup memberikan pertanyaan “mengapa” 5 kali pada setiap masalah atau fakta yang terjadi.

Fakta : Steel structure nya belum bisa di erection.

  1. Mengapa 1 : Mengapa sampai gak bisa di erection?
    Jawab 1 : Karena mur di angkurnya tidak komplit.
  2. Mengapa 2 : Mengapa murnya sampai tidak komplit?
    Jawab 2 : Karena habis stoknya di site.
  3. Mengapa 3 : Mengapa sampai tidak tahu kalau habis stoknya?
    Jawab 3 : Karena kita tidak mengecek dan mengontrol.
  4. Mengapa 4 : Mengapa tidak ada tim yang mengeceknya dan mengontrol?
    Jawab 4 : Karena kita kekurangan tenaga di cek list pekerjaan.
  5. Mengapa 5 : Mengapa sampai kita kekurangan tenaga cek list?
    Jawab 5 : Karena kita efisienkan jumlah tenaga kerja

Kesimpulan, mur habis, akibat tidak ada yang mengontrol. Jadi solusinya adalah mulai saat ini, kasih tenaga kerja yang khusus untuk cek list pekerjaan mur, agar mur tidak kehabisan.

Kesimpulan, mur habis, akibat tidak ada yang checklist saat steel structurnya belum di erection. Solusinya, harus dibuat sistem dan penambahan tim untuk checklist, sehingga dikemudian hari saat steel structure akan di erection, sehingga sistem tetap berjalan secara otomatis, sehingga tidak sampai kehabisan mur. Begitu contoh kecilnya dan berlaku untuk hal hal yang lainnya.

Bagaimana dengan sobat  Rep Powerplant di lain project? sudah kah menerapkan sistem “ 5 why”?

Kategori:Teknik Sipil Tag:

Semua “ tentang “……

Dalam kehidupan ini memang banyak larangan. Namun banyak larangan sering  kali justru membuat kita ingin melakukannya. Entah kenapa? Penasaran atau tertantangkah?

Di dalam ajaran agama memang terdapat banyak larangan atau pantangan. Yang pasti tujuannya adalah demi kebaikan.

Ada nasihat dari Sang Guru berkenaan dengan hal ini:

Terhadap larangan atau pantangan, memang seharusnya dihindari. Tidak boleh dilakukan. Begitu sederhana sebenarnya. Anak kecil juga tahu. Tetapi manusia sudah setua aku ini, masih kesulitan menaatinya.

# Tentang Kesalahan:
Jangan suka melihat kesalahan atau menyalahkan orang lain. Karena hal itu akan menunjukkan kesalahanmu sendiri.

Ketika dirimu masih suka melihat kesalahan orang lain dan menghakiminya. Itu tandanya masih ada kesalahan di dalam dirimu.

Apalagi menjadikan kesalahan seseorang sebagai olok-olok.

Nah, alangkah baiknya bila dirimu lebih fokus mengoreksi pada kesalahan diri sendiri dan segera memperbaiki.

# Tentang Meremehkan:
Jangan suka meremehkan orang miskin dan yang memiliki kekurangan. Sebab itu akan memperlihatkan kemiskinan jiwa dan kekurangan hatimu.

Dengan meremehkan seseorang itu artinya engkau tidak memiliki perasaan menghargai. Tetapi akan menimbulkan ketinggian hati.

# Ternyata Berdebat:
Jangan suka memperdebatkan kebenaran _agama. Karena itu akan menimbulkan sifat merasa paling benar. Dengan begitu akan menutup hatimu untuk menerima kebenaran lain.

Karena bila kebenaran semakin diperdebatkan, maka menciptakan ketidak-benaran.

Alangkah lebih baiknya, semakin mendalami kebenaran yang engkau yakini dan merenunginya dalam-dalam.

# Tentang Menghinakan Diri:
Jangan suka menghinakan diri sebagai manusia dengan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan seorang manusia. Karena manusia adalah makhluk yang terhormat dan mulia.

# Tentang Kata-kata Tidak Bermanfaat:
Jangan suka berkata-kata yang sudah tidak berfaedah, malahan dapat menyakiti hati orang lain. Karena akibat akan ditanggung oleh diri sendiri pada akhirnya.

Ingatlah bahwa kebohongan akan melahirkan kebohongan demi kebohongan. Beranak-cucu.

# Tentang Kemalasan:
Jangan suka bermalas-malasan, karena waktu yang berlalu tidak akan kembali lagi. Pada akhirnya menyesal pun tak akan berarti.

Hidup dalam kemalasan sama saja artinya tidak menghargai diri sendiri dan atas penciptaanmu.

# Tentang Mencuri:
Jangan suka mengambil sesuatu yang bukan milikmu. Apalagi itu untuk tujuan memperkaya diri dan menghidupi anak-cucumu. Karena engkau akan menanggung akibatnya.

Mengambil sesuatu yang bukan milikmu, sungguh merupakan perbuatan tercela.


# Tentang Amarah:

Jangan suka mengumbar amarah. Karena amarah dapat membakar hati dan pahalamu hingga tak berbekas.

Amarah masih membara, tandanya penguasaan dirimu masih kurang sekali. Bila amarah masih menguasai, baik-baiklah untuk bertobat dan merenungi.

Demikian sahabat Rep. Powerplant sedikit pesan dariku hari ini.

Kategori:Petuah Bijak Tag:

Suka duka seorang “ Punggawa Proyek”

16 Maret 2013 12 komentar

Kenapa saya membuat judul “ Suka duka seorang punggawa proyek “, karena beginilah kehidupan nyata yang kami alami, dan mungkin juga yang sobat Rep. Powerplant dimana pun kalian berada juga  alami…sebagai sesama punggawa, dalam payung Rep. Powerplant, karena disinilah kita terbentuk dalam menghadapi berbagai macam persoalan baik, persolan pribadi maupun persoalam team. Dalam menyatukan visi dan misi yang dibentuk dari berbagai macam karakter dan latar belakan yang berbeda. Itulah seninya dunia proyek.

Karena mungkin berguna bagi rekan2 senasib seperjuangan dan sobat2 Rep Powerplant dan generasi penerus semangat engineer, sebagai wacana sebelum benar2 terjun ke dalam dunia Proyek.

————-

Sisi Suka sebagai punggawa Proyek :

  1. Dengan mengikuti proyek, maka bisa dipastikan pula bahwa kita pun turut mengikuti kemana  proyek itu berada dan menambah wawasan kita dengan berinteraksi dengan lingkungan luar yang berbeda karakter dan membangun ulang dengan tim yang berbeda, dan proyek yang berbeda.

  2. Banyak orang bilang bahwa penghasilan orang proyek itu besar. ( besar ataupun kecil masalah gaji adalah relatif )

  3. Dengan bekerja di proyek, kita bisa menambah pengalaman yang tidak kita dapatkan dalam dunia pendidikan, yaitu cara menyatukan visi dan misi dari berbagai karakter yang berbeda menjadi satu kesatuan yang utuh, ( sebagai team work ) dan mengambil keputusan cepat disaat itu juga dengan pertimbangan2 yang matang sebagai seorang engineer.

  4. Kita bisa banyak belajar sambil bekerja untuk menimba ilmu yang bermanfaat dan dikemudian hari kita bisa ambil manfaatnya untuk melakukan usaha mandiri. ( menambah wawasan dan relasi kerja )

Sisi Duka sebagai punggawa Proyek :

  1. Kemungkinan besar bila yang masih lajang(bujangan) tidak menjadi masalah untuk meninggalkan kampung halaman dan keluarga dalam waktu yang lama, namun bisa jadi masalah bila yang sudah berkeluarga terutama yang sudah memiliki anak. ( akan diprotes karena jarang dirumah ).

  2. Kebanyakan Proyek menggunakan sistem kalender ( tidak ada hari libur ) dan kerja selama 24 jam non stop, jadi siap siap saja menghabiskan seluruh hidup di proyek.

  3. Belajar dan harus bisa itu yang harus dilakukan dan hukumnya wajib, karena kita bila tidak bisa akan tertinggal dengan yang lain. Karena sekarang banyak proyek sudah menggunakan teknologi yang tercanggih pada saat itu.

  4. Kehidupan bermasyarakat akan berkurang, karena banyak waktu kita dihabiskan di lokasi proyek.

  5. Bagi yang sudah berkeluarga dan di proyek yang jauh, akan lama ditinggal dan mungkin akan pulang setiap 3 bulan sekali dengan libur 10 hari, tetapi dengan proyek yang dekat dengan keluarga ada kemungkinan kita berangkat pagi pagi dan akan pulang larut malam dan anak istri sudah tertidur.

  6. Banyak yang bilang bahwa karyawan Proyek tampak “wow” dalam penghasilan, padahal juga sama saja dengan yang lain. ( bagi yang masih punya moral ).

  7. Banyak yang bilang dan menyebut kita sama seperti “ Bang Toyib” yang jarang pulang rumah, suka minum minuman keras, dan suka main perempuan.

    Adapun itu semua adalah cara pandang kita yang berbeda, dan semoga sebagai punggawa proyek bisa menerima  dan menjalaninya dengan lapang dada, termasuk anggota keluarganya.  Karena suka dan duka pasti akan datang menghampiri kita, dan itu adalah persoalan dan masalah kita, karena kita jauh dari keluarga juga hasilnya untuk keluarga dan tujuan kita adalah baik dan mulia, karena kita seorang engineer sebagai roda dan motor penggerak pembangunan bangsa ini, sehingga negara kita bisa makmur tentunya. Jadi selamat berkarya dan terus berkarya dan Lakukanlah yang terbaik hari ini untuk menjadikan negara kita lebih baik dan maju dengan mengisi pembangunan ini.  Semoga***

“ Rep. Powerplant ” (tanpa) Demokrasi

16 Maret 2013 2 komentar

Agenda rutinitas kami tiap hari sabtu sore sekitar pukul 17.00 wib, mengadakan meting mingguan untuk mengevaluasi hasil kerja dan target kerja di tiap minggu. Semua team dari level atas SM sampai kepada level kepala tukang ( Mandor ) selalu hadir. Seperti biasanya adalah kita membahas masalah2 kerja, mengevaluasi dan mengatasi permasalahan yang menyebabkan keterlambatan sebuah scedule kerja.

————–

Seperti biasanya yang membuka meeting adalah saya sebagai pimpinan proyek, untuk mengevaluasi hasil dan target sesuai scedule kerja, karena kita hanya akan mencari jawaban dari permasalahan klasik dua kata ajaib yaitu  “ Mengapa ? “ dan “Solusi? . Karena setiap kita mengevaluasi hasil kerja..dengan dua kata ajaib tsb, kemungkinan kita akan bisa selesaikan permasalahan dari yang sebatas Intern Team sampai ke level managerial kantor pusat. Dengan kata “ Mengapa kita tidak bisa selesaikan pengecoran tsb sesuai dengan scedule yang harusnya hari ini? Kenapa terlambat?

————–

Dengan begitu kita bisa menguraikan sedikit dari banyak masalah yang menyebabkan terlambat, misalkan…..faktor cuaca ataupun faktor manusia? dalam hal ini tenaga kerja. Karena bisa juga keterlambatan tsb terjadi karena Materialnya kurang, dan tenaga kerjanya kurang. Dengan tahu permasalahannya sehingga kita bisa menentukan solusi. 

—————

Seperti biasa, setiap hari sepanjang hari tiap kami habis jam kerja, kami pasti berkumpul sambil minum kopi dan bercandaan.  Si Lukman ( salah seorang punggawa Rep Powerplant 7 ).

Dan melalui obrolan2 ringan sambil menikmati secangkir kopi yang dibuat berame rame, dia menyelentuk,” Republik Powerplant tanpa Demokrasi “, dan aku pun tersentak kaget, dan bertanya kepadanya,” Kenapa kamu bisa bilang tanpa Rep Powerplant tanpa demokrasi?

Dia pun menjawab,” Karena setiap meeting, kamu selalu memberikan scedule pekerjaan yang ketat, dan jarang sekali mendengar masukan dan pendapat2 dari team yang lain…

Akupun tersentak, diam dan berpikir. Bukannya aku marah kepadanya, tetapi ini sebagai masukan buat Rep Powerplant untuk bisa lebih demokrasi, dan

aku pun menjawabnya,” Bukan begitu maksudku, itu aku lakukan untuk lebih menekankan dan menegaskan supaya kita dan mereka lebih bisa bekerja dengan tepat dan cepat dan terarah sesuai dengan scedule, karena kita bekerja sebagai sebuah Tim,”

dan dia pun mangut mangut saja, entah dia mengerti apa tidak………..

( blora, rep. powerplant 7)

Kategori:Diarry Ku Tag:,

Makna dari ucapan “ Terima kasih “

15 Maret 2013 1 komentar

Saya teringat sekitar sembilan tahun empat bulan yang lalu, ketika saya masih sangat muda dan baru mulai merasakan kerasnya dunia yang sesungguhnya, sesuai dengan cita2 sewaktu masih taman kanak-kanak sebagai seorang Civil Engineer ( seperti kata si Doel Anak sekolahan sebagai “Tukang Insinyur” ) dengan menggunakan sepatu safety dengan helm kuning. Kala itu sekitar pertengahan bulan November 2003.

 

————-

Sudah jalan lebih dari sembilan tahunan saya tidak pernah melupakan sesuatu dan sering saya dengar yang sering diucapkan bukan dengan saya saja tetapi dengan orang lain yang notabene adalah bawahannya di setiap akhir perkataannya ataupun tegurannya, yaitu dua kata  “ terima kasih “. Dan setiap perintah kita (dan memang kita sebagai bawahannya ), selalu didahului ucapkan kata “ tolong “  Dari sinilah aku baru menyadari dan arti dan makna dua kata tsb.

Entah disadari ataupun tidak sebuah kata “ terima kasih “  dan “ tolong “ bukan hanya sebuah ucapan saja tetapi  lebih dari itu adalah  suatu bentuk penghargaan kita terhadap orang lain.

————-

Sesaat pas di warung kelontong langganan kami didepan lokasi proyek,  tak kala kehabisan “ bahan bakar” istilah kami disini menyebutnya yaitu rokok filter isi 16 batang yang berasal dari kota kelahiranku, saat itu banyak pembeli yang datang, dan kulihat orang tua sekitar usia lima puluhan terlihat tidak sabar menunggu kembalian uang belanjaan, mungkin penjualnya usia setengah baya dan sendirian jadi mungkin agak bingung melihat agak banyak pembeli. Dan dengan kulihat tangan kanan bapak itu memegang sebatang rokok dan dengan tangan kirinya dia mengulurkan tangannya mengambil kembalian dari ibu warung tsb, dan langsung pergi begitu saja.  Aku hanya menghela nafas panjang saja melihat hal itu, dalam hatiku berkata ( apa sih susahnya ambil kembalian dengan tangan kanan dan ucapkan kata terima kasih).

Memang itu hak orang tsb, tetapi alangkah indahnya dunia ini bila kita saling menghargai orang lain yang dimulai dengan langkah kecil dan sederhana yaitu ucapan “ terima kasih “ dan “tolong” ? Karena sesungguhnya inti dari kehidupan ini adalah rasa; Rasa saling menghargai, menyegani dan menyayangi. Bagaimana bisa kita ingin dihargai dan di hormati orang lain, kalau kita sendiri tidak mau menghargai orang lain?

Bagaimana dengan kalian sobat Rep. Powerplant?

Medio, 14 Maret 13

————-

Kategori:Diarry Ku Tag:

Kembalikanlah Martabat Engineer

9 Maret 2013 1 komentar

oleh : Ir. Rony Ardiansyah, MT, IPU

Pengamat Perkotaan/Praktisi HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia)/ dan Dosen Teknik Sipil UIR

 

 

Dalam mengisi pembangunan bangsa ini, tugas seorang engineer sesungguhnya adalah sangat mulia. Mereka motor membangun gedung dan rumah-rumah tempat orang banyak berteduh, membangun jembatan-jembatan untuk memperpendek jarak dari daerah ke daerah, serta membangun jalan-jalan agar mudah ditempuh. Dalam keyakinan kita, membuang kulit pisang di jalan saja sudah banyak pahalanya. Apalagi membangun badan jalannya!

Tugas mulia itu, kini telah bergeser. Seharusnya engineer sebagai “penentu” hasil akhir pembangun, kini berubah menjadi yang “ditentukan”. Yang seharusnya menjadi “motor”, kini telah berubah menjadi roda atau ban. Yang seharusnya menjadi “kepala kucing”, kini telah berubah menjadi “ekor singa”. Jadi! Tidak heran, banyak gedung-gedung dan rumah-rumah yang retak, miring, bahkan ada yang rubuh sebelum digunakan. Banyak jembatan-jembatan yang gagal, turun dan retak, padahal baru tiga hari selesai dibangun. Sangat banyak jalan-jalan yang berlubang, aspal yang hancur dan penuh dengan kubangan air, padahal jalan tersebut belum diserah-terimakan.

Kembalikanlah martabat engineer! Kembalilah melaksanakan tugas yang mulia. Pantaskah, seorang engineer menaikkan atau meng-mark-up harga satuan pembangunan dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB)? Sehingga suatu proyek yang nilai satu miliar bisa menjadi satu setengah atau dua miliar. Haramkah, seorang engineer meng-mark-up volume-volume material dalam pembangunan jalan? Sehingga bisa menciptakan korupsi dan kolusi berjamaah. Ingat! Orang yang menjual minuman keras, orang yang membelinya, orang yang menyediakan gelas, orang yang menuangkan, dosanya sama dengan orang yang meminumnya. Sama-sama, Neraka.

Sebagai penutup saya kembali mengutip pernyataan yang menarik dari Said Dadu (Ketua Persatuan Insinyur Indonesia dalam majalah Techno Konstruksi Edisi 28: 13). “Bedanya engineer dengan bukan engineer adalah, kalau engineer selalu berpikir tentang nilai tambah, kalau non engineer berpikir value creation (rekayasa nilai). Sebagai contoh, harga kopi adalah biaya produksi untuk menjadikan kopi ditambah marjin keuntungan. Jika biaya produksi kopi Rp. 1.000 tetapi bisa dijual Rp. 10.000 kenapa tidak, itu bukan engineer. Jika harga kopi Rp. 1.000 diterima di pasar karena kemahalan, maka engineer akan berfikir mencari teknologi yang bisa menekan harga produksi kopi lebih rendah lagi agar bisa dijual di bawah Rp. 1.000.”

Semoga para engineer bisa kembali kepada fitrahnya dalam melaksanakan tugas yang mulia untuk mengisi pembangunan bangsa ini. Berperan sebagai motor pembangunan, bukan sebagai roda-roda gila yang mengilas jasad-jasad masyarakat miskin. Berperan sebagai penentu hasil akhir pembangunan, bukan sebagai wadah dan lahan berkolusi, berkorupsi buat para koruptor- koruptor atau buat para penghianat bangsa ini. Semoga!***

JERITAN HATI SEORANG INSINYUR

 

Oleh : Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U. (Pengamat Perkotaan/Dosen Magister Teknik Sipil UIR)

 

            “Aku insinyur. Aku tak bisa menguraikan dengan baik hubungan antara kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan proyek ini dengan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Apakah yang pertama merupakan manifestasi yang kedua? Apakah kejujuran dan kesungguhan sejatinya adalah perkara biasa bagi masyarakat berbudaya, dan harus dipilih karena keduanya merupakan hal yang niscaya untuk menghasilkan kemaslahatan?” Mungkin. Atau entah. Yang jelas bagiku kecurangan besar maupun kecil yang terjadi di proyek ini pasti akan mengurangi kesungguhan, bahkan mengkhianati tujuan dasarnya. Dan hatiku tak bisa menerimanya.

            Mungkin jeritan hati yang dialami Kabul dalam pembangunan proyek jembatan di sebuah desa ini pada jamannya, juga dirasakan oleh insinyur-insinyur sekarang yang selalu mengutamakan profesi dan etika di atas kepentingan pribadi. Kisah Kabul yang saya kutip dari sebuah novel tulisan Ahmad Tohari (2002) dengan judul “Orang-Orang Proyek”, bisa dimanisvestasikan untuk insinyur-insinyur jaman kini yang mempunyai hati. Karena jeritan hati hanya buat mereka yang mempunyai hati, bagi mereka yang tak punyai hati tidaklah mungkin hatinya menjerit.

            Bila dahulu. Memahami proyek pembangunan jembatan di sebuah desa di Sungai Cibawor bagi Kabul, seorang insinyur yang mantan aktivis kampus, sungguh suatu pekerjaan sekaligus beban psikologis yang berat. “Permainan” yang terjadi dalam proyek itu menuntut konsekuensi yang pelik. Mutu bangunan menjadi taruhannya, dan masyarakat kecillah yang akhirnya menjadi korban. Itulah jeritan hati Kabul untuk bisa tetap bertahan, agar jembatan yang baru dibangunnya itu mampu memenuhi dambaan penduduk setempat. Bagaimana dengan sekarang insinyur sekarang?

            Kabul pun mendapat tantangan berat, di mana tiang-tiang pancang jembatan itu menjadi miring dihantam pohon-pohon mahoni besar yang hanyut bersama datangnya air bah. Kerusakan itu membuat kerugian yang cukup besar. Serta memberikan beban batin karena hasil kerja beberapa hari dengan biaya miliaran lenyap seketika. Karena kejadian itu sesungguhnya bisa dihindari bila awal pelaksanaan pembangunan jembatan itu ditunda sampai musim kemarau tiba beberapa bulan lagi. Itulah rekomendasi dari para perancang. Namun rekomendasi itu diabaikan, konon demi mengejar waktu. Maksudnya. Pengusaha yang punyai proyek dan para pemimpin politik lokal menghendaki jembatan itu selesai sebelum pemilu 1992. Karena, menurut Kabul, peresmiannya akan dimanfaatkan sebagai ajang kampanye partai golongan penguasa saat itu. Menyebalkan. Dan inilah akibatnya bila perhitungan teknis-ilmiah dikalahkan oleh perhitungan politik. Karena, kerugian akibat banjir ini bisa menjadikan alasan untuk meminta biaya tambahan, dan hal ini berarti kesempatan baru untuk menggelumbungkan anggaran proyek. Semoga jaman sekarang ini, tidak terulang lagi.

            Hati Kabul pun tertusuk, mendapat sindiran yang justru lebih menghujam dari Pak Tarya, warga setempat sekaligus teman “curhat” sang insinyur muda ini. “ Ah, kami rakyat kecil tahu kok, apa arti pengelembungan biaya bagi orang-orang proyek”. Pak Tarya ingin mengatakan orang-orang proyek adalah manusia-manusia yang suka main curang. Korup dengan berbagai cara dan gaya. Tapi apakah Pak Tarya salah? Jujur, kabul meresa sindiran halus Pak Tarya lebih banyak benarnya. “Atau benar semuanya bila aku, Kabul ikut-ikutan suka makan uang proyek. Tapi bagaimana meyakinkan Pak Tarya bahwa aku tidak ingin seperti mereka?”  

            Pada suatu dialog lainnya. Pak Tarya mencoba menjawab pertanyaan Kabul; Mengapa beberapa penduduk di sini suka menyuap kuli-kuli untuk, mendapat, atau tepatnya dicurikan semen? Bukankah, selama ini kita menganggap orang kampung lugu, bersih, tidak “melik” terhadap barang orang lain?” He..he..he…., itu dulu, Mas Kabul. Sekarang, lain. Orang-orang kampung menganggap, misalnya mengambil aspal dari pinggir jalan adalah perkara biasa. Bila ketahuan, ya mereka akan membelikan rokok buat pak mandor. Selesai. Atau, mereka tak merasa bersalah karena tahu banyak pagar makan tanaman. Jadi kalau kuli-kuli Anda mencuri semen dan orang kampung jadi penadahnya, apa aneh?.

            Ah, Mas Kabul pura-pura lupa bahwa pada dasarnya kebanyakan orang masih dilekati watak primitif, yakni lebih mementingkan diri sendiri alias serakah. Ada rasa kecut di hati ketika menyadari apa yang dimaksud oleh Pak Tarya bila dirangkai dengan angka kebocoran anggaran proyek yang konon mencapai 30 sampai 40 persen itu. Primitif, mementingkan diri sendiri, serakah. Itulah akar persoalan? Rasanya memang begitu. Dan bila si primitif tadi adalah orang kampung di sekitar proyek yang miskin dan kurang terdidik, harap maklum. Namun kalau si primitif tadi adalah menteri, dirjen, kakanwil, pemki dan seterusnya? Apa mereka tidak mencak-mencak bila dikatakan primitif?

            Tanpa terasa proyek sudah berjalan tiga bulan. Namun karena dimulai ketika hujan masih sering turun, maka progres pekerjaan yang dicapai di rada di bawah target. Menghadapi kenyataan ini Kabul sering uring-uringan. Jengkel karena hambatan ini sesungguhnya bisa dihindari bila pemerintah sebagai pemilik proyek dan para politikus tidak terlalu banyak campur tangan dalam tingkat pelaksanaan.

            Dan campur tangan ini ternyata tidak terbatas pada penentuan awal pekerjaan yang menyalahi rekomendasi para perancang, tapi masuk juga ke hal-hal lain. Proyek ini, dibiayai dengan dana pinjaman luar negeri dan akan menjadi beban masyarakat, mereka anggap sebagai milik pribadi. Kabul tahu bagaimana bendaharaan proyek wajib mengeluarkan dana untuk kegiatan partai golongan penguasa. Kendaraan-kendaraan proyek wajib ikut meramaikan perayaan HUT golongan itu. Malah pernah terjadi pelaksana proyek diminta mengeraskan jalan yang menuju rumah seorang ketua partai golongan karena tokoh itu akan punya hajat. Bukan hanya mengeraskan jalan melainkan juga memasang “tarup”. Belum lagi dengan oknum sipil maupun militer, juga oknum-oknum anggota DPRD yang suka minta uang saku kepada bendaharaan proyek kalau mereka mau plesir keluar daerah.

            Dan ternyata orang-orang kampung pun ikut-ikutan nakal. Bila mereka hanya minta ikut memakai kayu-kayu bekas atau meminjam generator cadangan untuk keperluan perhelatan, masih wajar. Tapi kenakalan mereka lebih jauh. Mungkin karena tahu banyak priyayi yang ”ngiwung” barang, uang atau fasilitas proyek mereka pun tak mau ketinggalan. Selain menyuap kuli untuk mendapatkan semen, paku, kawat ikat, mereka juga sering meminta besi potongan, kata mereka, untuk membuat linggis.

            Mandor yang mencatat penerimaan material pun pandai bermain. Dia bisa bermain dengan menambah angka jumlah pasir atau batu kali yang masuk. Truk yang masuk sepuluh kali  bisa dicatat menjadi lima belas kali dan untuk kecurangan ini dia menerima suap dari para sopir.