Semua tentang “Alat bantu kerja”..

30 Maret 2013 8 komentar

 

(Doc. Peralatan perang Rep. Powerplant 7)

Iklan
Kategori:Power Plant Tag:

“Hidup kita” seperti sebuah Proyek yang Kita Kerjakan Sendiri

Seorang Punggawa Rep Powerplant bermaksud untuk pulang kampung ( resign) dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi skala nasional. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, mau mecoba hidup di lingkungan baru tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari2 dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang punggawa terbaiknya. Ia lalu memohon pada punggawa tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya sebelum benar benar pulang kampung.

Punggawa tsb mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti dan segera pulang. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang di minta.

Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan. Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si punggawa.

“Ini adalah rumahmu, hadiah dari kami.” katanya lagi.

Betapa terkejutnya si punggawa tsb. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri.

Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si punggawa tsb. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita mengawasi jalannya sebuah pembangunan proyek. Mari kita selesaikan pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam Seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan.

 

Lakukan yang terbaik hari ini……tetap semangat……

Salam hangat,

Rep. Powerplant

Kategori:Diarry Ku Tag:,

Surat dari punggawa kepada Bapak Insinyur…….

Disebuah pesta kecil perpisahan sederhana bagi Tim Rep Powerplant 6 di ujung timur Indonesia setelah masa kerja proyek disana selesai.

Diadakan sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan, dan kritikan dari anak buah kepada mantan atasannya yang segera kembali lagi ke kantor pusat dari perusahaan tersebut.

Karena waktu yang terbatas, kesempatan tersebut dipersilahkan dinyatakan dalam bentuk tulisan. Diantara pujian dan kesan yang diberikan, dipilih dan dibingkai untuk diabadi kan kemudian dibacakan di acara tersebut, yakni sebuah catatan dengan gaya tulisan coretan dari seorang harian proyek yang telah bekerja cukup lama dengan kami.

Dia menulis semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut,

“Yang terhormat Bapak Insinyur,

Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan kata “tolong”, setiap kali Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah tanggung jawab saya.

Terima kasih Pak Insinyur karena Bapak telah mengucapkan “maaf”, saat Bapak menegur, mengingatkan dan berusaha memberitahu setiap kesalahan yang telah diperbuat karena Bapak ingin saya merubahnya menjadi kebaikan.

Terima kasih Pak Insinyur karena Bapak selalu mengucapkan “terima kasih” kepada saya atas hal-hal kecil yang telah saya kerjakan untuk Bapak.

Terima kasih Pak Insinyur atas semua penghargaan kepada orang kecil seperti saya sehingga saya bisa tetap bekerja dengan sebaik-baiknya, dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan dan dikecilkan.

Dan sampai kapan pun bapak adalah Pak Insinyur buat saya.

Terima kasih sekali lagi. Semoga Tuhan meridhoi jalan dimanapun Pak Insinyur berada.

Amin.”

Setelah sejenak keheningan menyelimuti halaman teras mess, serentak tepuk tangan menggema memenuhi teras mess kami.

Diam-diam Pak Insinyur mengusap genangan airmata di sudut mata, terharu mendengar ungkapan hati seorang tenaga harian proyek yang selama ini . Pak Insinyur tidak pernah menyangka sama sekali bahwa sikap dan ucapan yang selama ini dilakukan, yang menurutnya begitu sederhana dan biasa-biasa saja, ternyata mampu memberi arti bagi orang kecil seperti si Tenaga harian tersebut.

Terpilihnya tulisan itu untuk diabadikan, dalam sejarah sepenggal cerita Perjalanan Rep Powerplant di ujung timur Indonesia.

Tiga kata kata ajaib “terima kasih, maaf, dan tolong” adalah kalimat pendek yang sangat sederhana tetapi mempunyai dampak yang positif.

Namun mengapa kata-kata itu kadang sangat sulit kita ucapkan? Sebenarnya secara tidak langsung telah menunjukkan keberadaban dan kebesaran jiwa sosok manusia yang mengucapkannya. Apalagi diucapkan oleh seorang pemimpin kepada bawahannya.

Pemimpin bukan sekedar memerintah dan mengawasi, tetapi lebih pada sikap keteladanan lewat cara berpikir, ucapan, dan tindakan yang mampu membimbing, membina, dan mengembangkan yang dipimpinnya sehingga tercipta sinergi dalam mencapai tujuan bersama sebagai Team Work yang solid.

Tentu bagi siapapun kita perlu membiasakan mengucapkan kata-kata pendek seperti terima kasih, maaf, dan tolong dimana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun kita berhubungan. Dengan mampu menghargai orang lain minimal kita telah menghargai diri kita sendiri.

Ujung timur Indonesia

Rep. Powerplant

Tentang sebuah “ kepercayaan “ ………..

29 Maret 2013 2 komentar

Seperti di project2 yang Rep Powerplant lalui, untuk kebutuhan pokok kami yaitu makan, tidak bisa lepas dari sebuah warung makan dengan menu seadanya dan sederhana yang penting kenyang  dan yang utama adalah keluarga dirumah tercukupi, dikarenakan uang makan setiap minggu sekali, maka tidak ada jalan lain kecuali menulis sebuah catatan harian bon warung “ Buku dosa “. ( tampak dalam foto ada beberapa buku* ).———

Yang saya bahas disini bukan makan ataupun yang lainnya, melainkan tentang sebuah “kepercayaan”.——–

Yach…… sebuah kepercayaan dan kejujuran yang sulit kita dapatkan didunia serba teknologi  modern sekarang. Karena setiap tim kami dan beberapa tim kontraktor lainnya makan, kita tinggal hitung dan menulis sendiri2 di dalam catatan kasbon yang  kami sering sebut sebagai “ buku dosa“ .  Ibu pemilik warung disini yang bernama Bu Marno….begitu kami panggil, tidak pernah mengecek ataupun menuliskannya tetapi selalu bilang tulis saja sendiri…..begitu percayanya walaupun mungkin bisa beresiko seandainya para pekerja2 proyek yang notabene adalah buruh harian lepas yang bisa saja mangkir ataupun tidak membayarnya……tetapi dia mengajarkan kami  di Universitas kehidupan tentang  berprinsip “ Memandang bahwa semua orang adalah baik dan jujur” dengan dilandasi “ Kepercayaan”…….

Kalaupun ada yang tidak jujur ataupun tidak membayar ( lari dari tanggung jawab*) dia menggangap sebagai sedekah……yang penting kita sudah berniat baik dan menolong sesama dengan dilandasi percaya…

Bagaimana dengan kalian sobat Rep Powerplant?

Lembah Bentolo, 29 Maret 2013

Kategori:Diarry Ku Tag:

Sedikit percaya untuk semua….

Salam sukses buat semua sobat Rep Powerplant dimanapun kalian berada.

Jika anda merasa bingung, berpikirlah yang positif.  Karena anda akan merasa tenang dan dapat menentukan pilihan dengan bijak. Karena hanya ada satu jalan di dunia ini yang pasti bisa anda perbaiki yaitu diri anda sendiri.

Sebenarnya rahasia keberhasilan itu ialah dengan mengejar impian tanpa henti dan mengeluh. Jika anda menunda-nunda untuk berubah oleh banyaknya urusan, tapi ketahuilah bahwa hidup takkan pernah menunda urusannya untuk menunggu anda berubah.

PERCAYALAH, karena kepercayaan bagai KEPERAWANAN yang tak akan kembali lagi, karena sekali saja kepercayaan dikhianati, maka selamanya takkan dipercaya lagi.

 

Pada hakikatnya, Baik atau Buruk dan Sukses atau Gagal adalah kita sendiri yang bisa melakukannya juga merubahnya, maka dari itu….Lakukanlah yang terbaik hari ini dan Jangan pernah menyerah.

Lembah Bentolo, 28 Maret 2013

Kategori:Petuah Bijak Tag:,

Tentang pencapaian kita selama ini…….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sudah terlalu lama kita berjalan menyusuri kehidupan ini,  dan kita seakan lengah dan tak peduli sekaligus menghiraukan tentang apa saja yang telah kita lalui.

Sehingga semua pencapaian kita sekarang ini dalam perspektif yang sederhana tergolong “egois” akan tujuan yang telah kita tunggu-tunggu dengan pengharapan penuh.

Tapi entah berapa lama pencapaian tersebut akan bertahan. Kita semua tak ada yang tahu. Kita hanya selalu berharap dan berusaha untuk terus mempertahankannya, atau bahkan mengembangkannya sampai batas setinggi tingginya. Tak dapat dimungkiri bahwa itu sudah bawaan suatu makhluk yang disebut manusia yang selalu tidak puas akan apa yang telah dicapainya.

Cobalah sedikit menengok  ke belakang.  Apa yang telah kita capai sekarang, mustahil tanpa adanya sumbangsih keringat dan air mata siapa saja yang melintasi perjalanan hidup kita. Tak sedikit yang ikut terlibat dalam pencapaian kita sekarang ini. Baik secara langsung atau pun tidak langsung, banyak yang simpatik kepada kita dengan terus memberikan motivasi dan inspirasi.

Dan ada begitu banyak makhluk istimewa yang mungkin tidak kita sangka-sangka dengan ridho dan sukarelanya mau meneteskan air mata untuk mendoakan kita. Kita tak pernah tahu.

Terkadang atau bahkan kita terlalu sering meminta dispa dan lupa memberi salam, kita terus meminta untuk didengar dan lupa untuk mendengar, kita terlalu sering berbicara dan  memaksa mereka mendengar, kita terlalu banyak meminta untuk dimengerti dan lupa untuk mengerti, kita lebih suka dilihat, dan malu untuk melihat, dan kita terlalu sombong untuk dikenal dan gengsi untuk mengenal, terlebih saat salah kita sering berusaha untuk dimintai maaf dan bukan meminta maaf.

Semua yang mereka lakukan dengan tulus dan sepenuh hati untuk memberi salam, mendengar, membiarkan kita berbicara, mengerti, melihat, mengenal dan meminta maaf kepada kita. Lalu, kapan kita berlaku sebaliknya ?

Nampaknya kita perlu sejenak merenungkan  suatu nasihat sederhana dan sarat akan makna. “Ketika kita meminta kepada Tuhan, kita paksa Tuhan memberi apa yang kita minta. dan sebandingkah, ketika ada makhluk yang datang menghampiri kita yang hanya sekedar ingin meminta simpatik kepada kita, lantas kita acuhkan, bahkan kita usir secara primitif?”

Mereka yang menyegerakan segala perilaku untuk berbagi dan memberi telah mencerminkan sikap manusiawi yang sesungguhnya, yang saling tolong menolong terhadap sesama.

Jadi, tengok sekali lagi ke belakang sebelum dengan lantang kita mengeluarkan pernyataan bahwa kita orang yang sukses. tanyakan pada diri kita sampai dimana pencapaian kita selama berapa bulan ? berapa tahun ? atau bahkan berapa abad kedepan ? tentunya bila tanpa MEREKA .

Arti kesuksesan tak semata-mata dipandang dari segi pencapaian, namun ketika kesuksesan tersebut dapat membawa berkah kepada mereka yang ikut terlibat secara langsung atau tidak langsung, dan bahkan yang sama sekali tidak kita kenal bisa merasa damai dan sejahtera bersama kita, itulah kesuksesan pandangan saya, masalah setuju ataupun tidak itu adalah hak anda.

Bukan dengan seberapa banyak kita memberi dan berbagi, melainkan seberapa ikhlas kita berbagi terhadap sesama.

Bagaimana menurut sobat Rep Powerplant dimanapun kalian berada.

Salam hangat,

Rep. Powerplant

Kategori:Diarry Ku Tag:,

Nasihat dari seorang Sahabat….

Sebagai seorang manusia biasa, pada umumnya dan normal pasti menginginkan kehidupan yang “sejahtera” walaupun pengertian sejahtera bagi orang itu relatif.

Keberhasilan dalam mengusung  Rep Powerplant selama ini membuat saya lebih banyak bertemu dan berkenalan dengan relasi kontraktor dan kawan2 sekolah dulu melalui jejaring sosial, walaupun berbeda perusahaan tetapi bergerak dibidang yang sama yaitu konstruksi.

Pada suatu ketika sesaat pas dapat cuti liburan di sebuah kota di Kalimantan, saya bertemu dengan seorang kawan dari perusahaan lain, dan dia menawarkan saya untuk memimpin sebuah proyek, tetapi berada diujung barat negeri ini.

Terus terang, saya bimbang, dengan kerja yang sama, Gajinya dua kali lipat dari yang saya terima berikut fasilitasnya. Padahal yang saya terima sudah lumayan bagus. Berarti, tawarannya dua kali lebih bagus.

Bingung memutuskan, saya temui seorang sahabat Rep Powerplant. Saya ceritakan soal tawaran perusahaan itu apa adanya. Setelah diam beberapa saat, Sahabatku kemudian memberi nasihat. “Sukses bisa di mana saja. Di sini atau di sana, semua sama,” kata Sahabatku mengawali nasihatnya.

“Bagaimana mencapai sukses sebagai karyawan proyek?” tanya saya. “Membalik nasib. Itu yang harus Kamu lakukan,” kata Sahabatku.

“Ketika kamu dulu melamar kerja di perusahaan ini, artinya Kamu yang butuh pekerjaan. Setelah diterima, Anda harus mengubah agar perusahaan butuh Anda,” jelas Sahabatku.  Saya manggut-manggut sambil menghisap sebatang rokok, tetapi sebenarnya saya juga tidak paham benar maksudnya.

 

“Jadilah karyawan yang tak tergantikan. Maka, nilai Kamu akan tinggi. Kalau biasa-biasa saja, nilai tawar kamu juga rendah,” kata Sahabatku. “Jadi, tawaran itu saya terima atau saya tolak saja?” tanya saya. “Terserah kamu. Boleh diterima, boleh juga ditolak. Pertanyaan saya satu, kamu di perusahaan ini merasa senang apa tidak?” tanya Sahabat. “Oh, senang sekali,” jawab saya.

“Bekerja itu, yang pertama harus punya perasaan senang. Dengan perasaan itu, Kamu pasti bisa berprestasi. Dengan berprestasi, perusahaan akan membutuhkanmu. Itu jalan mengubah nasib,” kata Sahabatku.

Dua minggu setelah pertemuan itu, saya bertemu Sahabatku lagi. “Lho, kamu kok belum pindah ke Kontraktor besar  itu?” tanya Sahabatku. “Saya pilih di tempat yang membuat saya merasa senang,” jawab saya, “ Tetapi akan lebih senang lagi bila tempat kita bekerja nyaman dan tidak jauh dari keluarga.

Sahabatku hanya tersenyum. Entah apa yang ada dalam pikirannya.

Kategori:Diarry Ku Tag:,