Arsip

Archive for the ‘Renungan’ Category

Antara Uang dan Kebahagiaan

28 Februari 2013 Tinggalkan komentar

Saya selalu mengajarkan kepada keluarga saya, bahwa uang atau materi hanyalah sarana, bukan tujuan , jika materi menjadi tujuan utama atau menjadi pedoman, maka saat materi itu hilang, akan hilang pula esensi dirinya secara manusiawi.

Sebuah pertanyaan polos, apakah uang dapat membuat kita bahagia?

Bila kita mempunyai banyak uang, kita bisa membeli apapun yang kita inginkan mulai dari rumah megah, mobil mewah edisi terbatas, baju dari perancang ternama sampai makanan lezat dan nikmat dari restaurant terkemuka. Tapi, apakah itu semua bisa membuat kita bahagia?

Ilustrasi ringan, satu keluarga mempunyai rumah megah, semua anggota keluarga memiliki mobil mewah sendiri, uang banyak hingga segala macam kebutuhan terpenuhi. Tapi satu yang jadi masalah, komunikasi di antara sesama anggota keluarga tidak terjalin dengan baik, karena semua orang sibuk dengan urusan dan acaranya sendiri – sendiri.

Sang ayah sibuk rapat ke luar kota, Ibu sibuk arisan, anak-anak sibuk dengan acara gaulnya sendiri. Hingga akhirnya tak mengherankan bila setiap anggota keluarga punya egoisme sendiri sendiri, dan tidak memperdulikan yang namanya kebersamaan dan keharmonisan dalam keluarga. Bila telah terjadi demikian, apakah uang bisa membuat kita bahagia? Apakah uang bisa membeli sebuah kebahagian untuk keluarga kita?

Stress atau depresi, anda mungkin pernah mengalami stress / depresi karena masalah uang ? Banyak dari kita yang mengalami masalah keuangan dan akibatnya menjadi stress karena memikirkan keuangan. Mulai dari cicilan buat motor atau mobil, bayar cicilan rumah sampai kepada masalah pemenuhan kebutuhan sehari-hari, dari makan, minum, sampai merokok.

Jika anda mengalami itu semua, jangan khawatir itu artinya anda normal. Kenapa?.. Karena zaman sekarang segala sesuatu telah diukur dengan yang namanya uang. Mulai dari hal besar, cicilan motor atau rumah misalnya sampai kepada hal kecil sekalipun misalnya kalau anda pergi ke MCK. Semua telah diukur dengan yang namanya uang. Kalau telah terjadi hal seperti ini, apakah benar uang bisa membuat kita bahagia?

Kita bekerja banting tulang mulai dari pagi sampai malam, bekerja tanpa kenal lelah untuk mendapatkan uang, bahkan kadang kala kita tidak memperdulikan kesehatan tubuh kita. Hingga pada akhirnya kita pun sering mengalami masalah kesehatan, Sering sakit dan justru menghamburkan uang untuk membayar dokter biar tubuh kita kembali sehat (itu artinya kadangkala uang yang kita dapatkan tak sebanding dengan kesehatan tubuh yang kita korbankan).

Kalau anda pernah mengalami hal seperti ini, apakah uang bisa membuat kita bahagia? Apakah uang bisa mengembalikan kesehatan tubuh kita dan membuat kita kembali bahagia menikmati hidup ini?

Misalkan anda diminta untuk meninggalkan semua uang anda, dan hidup apa adanya tanpa uang. Apakah anda akan bahagia? Bila kita mempunyai sebuah keluarga yang harmonis dan menyayangi kita, pasti anda akan setuju bahwa hidup kita pasti akan lebih bahagia meskipun kita tidak memiliki uang yang banyak, iya kan?

Sumber

Iklan

Cukup Dan Tak Cukup

18 Oktober 2012 12 komentar

Di suatu siang di dalam masjid, saya berbincang tentang kehidupan dengan seseorang. Dia dikaruniai dua pasang kaki yang tidak sempurna. Meski sekilas orang akan mengasihinya, bisa jadi justru kitalah yang mungkin layak dikasihani. Kenapa ? Karena, lelaki yang mempunyai raut muka tegar itu menyimpan segudang kehebatan yang kadang tak dimiliki sosok manusia sempurna secara fisik. Kehebatannya adalah dia tak pernah mengeluh sepanjang hidupnya, karena mengeluh itu sifat terlemah dari manusia. Kekurangan pada dirinya ia syukuri sehingga melahirkan prasangka positif dan fikirannya kreatif untuk mencari rizki. Dia membuat kerupuk singkong yang dijajakan dan hasilnya dapat menafkahi anak-istrinya dengan cara dan jalan terhormat. Lain halnya dengan sahabat yang bersua dalam perjalanan, ia mengeluh karena gajinya hanya Rp 3 juta. Menurut penuturannya, gaji sebesar itu tidak cukup untuk bayar cicilan motor, susu anaknya, bayar kontrakan rumah, listrik dan lain-lain. Dia mengaku perlu gaji Rp 6 juta untuk dapat hidup cukup. Saya masih ingat dulu sahabatku ini mengeluh punya gaji Rp 1 juta dan ingin Rp 3 juta. Ketika Allah mengabulkan keinginannya, sekali lagi saya mendengar ia masih mengeluh. Bahkan pada saat mulai masuk kerja pertama kali, gajinya hanya Rp 300 ribu sebagai penjaga malam. Saya ingat, dulu ia tak mengeluh dengan Rp 300 ribu itu.

Menyikapi fenomena ceritera di atas, saya ingat akan ayat Allah, “Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesah dan apabila mendapatkan kebaikan (harta) dia menjadi kikir. Kecuali orang-orang yang melaksanakan sholatnya dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu bagi orang miskin yang meminta dan tidak meminta dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan dan orang-orang yang takut terhadap azab tuhannya” (Al-Ma’aarij ayat 19-27).

Ternyata Allah sudah memberikan gambaran kepada kita mengenai karakter asli manusia. Bahkan, tatkala keluhan itu terjawab dengan karunia kenikmatan (harta), kecenderungannya menjadi kikir. Begitu banyak orang menjadi sombong, bahil dan kufur terhadap nikmat yang telah diberikan Allah. Ya dari jaman Musa dan Fir’aun, Qorun, Abu Lahab, Abu Jahl hingga saat ini. Saat kita merasa kekurangan, miskin atau tidak mampu dalam hal harta dan kekuasaan, kerap kita berdoa minta harta yang cukup dan jabatan yang pantas. Setelah semua itu terpenuhi, ternyata tidak cukup memuaskan karena tumbuh keinginan-keinginan baru yang ingin dicapainya. Sungguh, jika tabiat mengeluh ini terus dipupuk, maka sangat membahayakan kehidupan kita di dunia dan akherat. Maka, mari kita bersyukur atas apapun yang kita terima hari ini dan dalam kondisi sulit sekalipun.

Sumber

Kategori:Renungan Tag:,

3 Mei 2012 7 komentar

I Love Kota Malang……

Rep. Powerplant (N 9059215.8710 : E 357048.3416)

 

 

Daerah Malang merupakan peradaban tua yang tergolong pertama kali muncul dalam sejarah Indonesia yaitu sejak abad ke 7 Masehi. Peninggalan yang lebih tua seperti di Trinil (Homo Soloensis) dan Wajak – Mojokerto (Homo Wajakensis) adalah bukti arkeologi fisik (fosil) yang tidak menunjukkan adanya suatu peradaban.

Peninggalan purbakala disekitar wilayah Kota Malang seperti Prasasti Dinoyo (760 Masehi), Candi Badut, Besuki, Singosari, Jago, Kidal dan benda keagamaan berasal dari tahun 1414 di Desa Selabraja menunjukkan Malang merupakan pusat peradaban selama 7 abad secara kontinyu.

CANDI BADUT

Malang merupakan wilayah kekuasaan 5 dinasti yaitu Dewasimha / Gajayana (Kerajaan Kanjuruhan), Balitung / Daksa / Tulodong Wawa (Kerajaan Mataram Hindu), Sindok / Dharmawangsa / Airlangga / Kertajaya (Kerajaan Kediri), Ken Arok hingga Kertanegara (Kerajaan Singosari), Raden Wijaya hingga Bhre Tumapel 1447 – 1451 (Kerajaan Majapahit).

 
MASA KERAJAAN KANJURUHAN
Kerajaan Kanjuruhan menurut para ahli purbakala berpusat dikawasan Dinoyo Kota Malang sekarang. Salah satu…

Lihat pos aslinya 1.545 kata lagi

Kategori:Renungan

Sebuah Pilihan Yang Sulit!

 

Menjelang istirahat suatu kursus pelatihan, sang pengajar mengajak para peserta untuk melakukan suatu permainan. ‘Siapakah orang yang paling penting dalam hidup Anda?’

Pengajar meminta bantuan seorang peserta maju ke depan kelas.
” Silakan tulis 20 nama yang paling dekat dengan kehidupan Anda saat ini”

Peserta perempuan itu pun menuliskan 20 nama di papan tulis. Ada nama tetangga, teman sekantor, saudara, orang-orang terkasih dan lainnya.

Kemudian pengajar itu menyilakan memilih, dengan mencoret satu nama yang dianggap tidak penting. Lalu siswi itu mencoret satu nama, tetangganya. Selanjutnya pengajar itu menyilakan lagi siswinya mencoret satu nama yang tersisa, dan siswi itu pun melakukannya, sekarang ia mencoret nama teman sekantornya. Begitu seterusnya.

 
Sampai pada akhirnya di papan tulis hanya tersisa 3 nama. Nama orang tuanya, nama suami serta nama anaknya. Di dalam kelas tiba-tiba terasa begitu sunyi. Semua peserta pelatihan mengalihkan pandangan ke pengajar. Menebak-nebak apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh pengajar itu. Ataukah, selesai sudah tak ada lagi yang harus di pilih.

Namun dikeheningan kelas sang pengajar berkata : “Coret satu lagi !!”
Dengan perlahan dan agak ragu siswi itu mengambil spidol dan mencoret satu nama. Nama orang tuanya. “Silakan coret satu lagi !” Tampak siswi itu larut dalam permainan ini. Ia gelisah. Ia mengangkat spidolnya tinggi-tinggi dan mencoret nama yang teratas dia tulis sebelumnya. Nama anaknya. Seketika itupun pecah isak tangis di kelas.

Setelah suasana sedikit tenang, pengajar itu lalu bertanya : “Orang terkasih Anda bukan orang tua dan anak Anda? Orang tua yang melahirkan dan membesarkan Anda. Anda yang melahirkan anak. Sedang suami bisa dicari lagi. Mengapa Anda memilih sosok suami sebagai orang yang paling penting dan
sulit dipisahkan?”

Semua mata tertuju pada siswi yang masih berada di depan kelas. Menunggu apa yang hendak dikatakannya.” Waktu akan berlalu, orang tua akan pergi meninggalkan saya. Anakpun demikian.Jika ia telah dewasa dan menikah, ia akan meninggalkan saya juga. Yang benar-benar bisa menemani saya
dalam hidup ini hanyalah suami saya.“

Sumber

Jangan Mengendarai, Tapi Mengemudikan! ( renungan )

 

image

Pada saat kita melihat orang di atas gajah, mungkin kita berpikir orang itu sedang mengendarai gajah tersebut. Belum tentu. Siapa mengendarai siapa? Tergantung siapa yang menentukan arah. Apakah si gajah atau si orang? Kalau gajah yang menentukan arah, kita cuma penumpangnya. Kita hanya mengendarainya. Kalau kita yang menentukan arah, kitalah pengendaranya, kita yang memegang kontrol atau kendali. Kita yang mengemudikannya. Begitu juga dengan kehidupan.
Kehidupan kita sekarang terbentuk karena keputusan-keputusan kita di masa lalu. Entah itu keputusan kita untuk mengambil keputusan sendiri, atau keputusan kita untuk membiarkan orang lain yang mengambil keputusan buat kita. Apakah kita hanya mengendarai atau mengemudikan kehidupan kita?
Kita dipanggil untuk mengemudikan, bukan hanya kehidupan sendiri, tapi orang lain. Itulah fungsi seorang pemimpin. Bukan sekitar yang seharusnya membentuk pemikiran kita, tapi kita yang seharusnya membawa perubahan kepada sekitar.

Bagaimana caranya untuk mengemudikan hidup kita?

1. Semua berawal dari sebuah visi
“Apabila seseorang tidak tahu pelabuhan mana yang dia cari, maka setiap angin adalah angin yang benar”
Kapal layar perlu angin untuk bergerak. Apabila si pelayar mau menuju ke utara, hanya pada saat angin bertiup ke utara baru layar dinaikan, jika tidak maka layar akan diturunkan. Bagaimana caranya si pelayar tahu kapan harus menaikkan atau menurunkan layar kalau dia tidak tahu arah tujuannya? Semua angin sepertinya baik. Angin itu ibarat kesempatan. Banyak sekali kesempatan yang akan datang dalam hidup kita. Semua terlihat baik. Tapi tidak semuanya untuk kita. Dan kalau kita tidak tahu visi kita, akan susah untuk menentukan kesempatan mana yang untuk kita, mana yang bukan. Salah ambil kesempatan adalah kesia-sian dalam waktu, uang dan tenaga.
“dengan melihat hari ini, engkau dapat melihat tangan Tuhan di masa lalu. Dengan melihat masa depan, engkau dapat melihat tangan Tuhan di hari ini.”

2. Meresponi dengan perubahan untuk sesuatu yang lebih baik

Perubahan adalah sebuah proses, janganlah kita puas dengan yang biasa-biasa saja.. TAPI BERUSAHALAH UNTUK MENJADI LUAR BIASA

3. Jangan menyangkal kebenaran, tetapi hadapi dan bersukacitalah

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia.

Bila kita memutuskan untuk bertekun di dalamnya, karakter kita akan terbentuk, lalu pengharapan Tuhan akan datang. Kita naik ke tingkat yang lebih tinggi. Di tingkat yang lebih tinggi ini, kekuatan kita pasti lebih besar. Cobaan akan lebih berat, tapi kalau kita memutuskan untuk bertekun di dalamnya, karakter kita terbentuk lagi, dan pengharapan Tuhan pun datang. Kita naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Tanpa disadari, saat kita lihat melihat ke belakang, kita bukan orang yang sama lagi. Kita telah diubahkan dan “engkau akan tetap naik dan bukan turun!!”

Kembali ke analogi gajah tadi, mungkin terlihat mustahil untuk orang di atas gajah mengontrol gajah tersebut. Gajah yang begitu besar, dengan mudah akan mengontrol orang yang ada di atasnya. Tapi ternyata ada rahasianya. Di salah satu tempat wisata gajah di Thailand, si pawang gajah mengendalikan gajah yang dikendarai dengan cara menyentil telinga kiri gajah apabila ingin gajahnya ke kanan, dan menyentil telinga kanan gajah untuk ke kiri. “begitu juga rahasia untuk mengemudikan kehidupan kita, dan akan tersingkap melalui proses.”

HAVE A NICE DRIVE GUYS

Sumber

Aku Terpaksa Menikahinya (Kisah Nyata)

3 Maret 2012 2 komentar
 

Aku Terpaksa Menikahinya (Kisah Inspiratif Untuk Para Calon-Istri)

Aku Terpaksa Menikahinya (Kisah Inspiratif Untuk Para Calon-Istri)

– Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

 

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

 

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

 

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

 

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

 

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

 

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

 

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

 

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Sumber : http://www.kucoba.com/2012/01/aku-terpaksa-menikahinya-kisah-nyata.html

Seberapa hebatkah Kamu

25 Februari 2012 Tinggalkan komentar

 

Pernahkah kamu melihat banyak orang pintar, kaya, dll. Tapi apakah mereka termaksud orang yang hebat? Belum tentu juga kan, karena tiap orang itu punya kelebihan dan kelemahan. Jadi orang yang gimana sih orang hebat itu? Apakah orang yang PINTAR+KAYA++++ . . .yang termaksud orang hebat? Gak juga, menurut saya orang yang hebat itu adalah orang yang dapat memanfaatkan kelebihannya agar dapat berguna bagi orang lain.

Kenapa begitu? Karena tiap orang itu memiliki kehebatannya sendiri2 kalau dia tidak memanfaatkannya mana mungkin orang akan tahu kalau dia hebat, orang paling bilang dia hanya hebat kelihatannya saja gak tahu aslinya gimana . . .

Banyak contoh orang yang merasa dirinya hebat padahal .  .  .

Seperti ada beberapa Oknum wanita yang merasa bahwa dirinya hebat karena memiliki paras yang indah dan tubuh yang molek. Karena rasa percaya yang tinggi akan kelebihannya itu dia berani membuka bajunya atau bahkan bugil dan telanjang untuk di pamerkan dan akhirnya menjadi santapan umum.

apakah yang seperti itu di sebut hebat? atau orang yang seperti di contoh saya selanjutnya?

 

Ada ilmuan yang sangat pintar, dia mampu menciptakan hal hal baru yang mungkin dapat berguna bagi orang lain. Tapi dia malah menciptakan sebuah senjata biologis.

atau seperti yang ini

 

Seseorang yang telah di percaya untuk memimpin karena kecerdasannya tapi ia malah memanfaatkan kepercayaan yang ia dapatkan untuk melakukan hal penyelewengan

 

ataukah yang seperti ini

Seorang anak kecil yang meminjamkan salah satu‚  alat tulisnya untuk temannya agar temannya dapat mengikuti ujian

http://blog.wiznu.web.id/2009/03/24/seberapa-hebatkah-kamu/

Kategori:Diarry Ku, Renungan Tag: