Beranda > Power Plant > Percayalah pada Keberuntungan

Percayalah pada Keberuntungan

 

KAMAJAYA, DIREKTUR UTAMA/PEMILIK PT GENDHIS MULTI MANIS. Foto: Investor Daily/EMRAL

Perpaduan antara kerja keras dan keberuntungan telah mengantarkannya menjadi seorang pengusaha sukses yang sangat diakui dalam industri gula nasional. Berkat sentuhan tangan dinginnya, Kamajaya berhasil membangun dua pabrik gula (PG) miliknya, yaitu PT Industri Gula Nusantara (IGN) di Kendal dan PT Gendhis Multi Manis (GMM) di Grobogan, Jawa Tengah.
Ternyata industri gula bukanlah bidang yang semula diidam-idamkannya. “Saya dulu bercita-cita menjadi sopir bus Kramat Jati atau Lorena,” tutur Kamajaya kepada wartawati Investor Daily Alina Musta’idah di Jakarta, baru-baru ini.
Kamajaya bukanlah pengusaha bertipe pemburu rente, spekulan, atau yang semata mengeruk keuntungan dengan menghalalkan segala cara. Kamajaya sangat menjunjung tinggi idealisme. Ia menghendaki dua perusahaan gula yang dinakhodainya tak hanya meraih keuntungan, tapi juga memberikan kemaslahatan kepada masyarakat luas.
Kamajaya bahkan punya obsesi ikut membangun industri gula nasional yang sehat dan tangguh, tanpa distorsi, sehingga menguntungkan semua pemangku kepentingan (stakeholders), terutama petani dan konsumen. “Kalau saat ini ada ‘samurai gula’, saya ingin menjadi pendekar gula. Punya ilmu tinggi, punya senjata yang seimbang, keberanian, dan hati nurani,” tegas dia.
Kamajaya juga punya filosofi bisnis yang berlandaskan moral dan nilai-nilai kebajikan. “Jangan ambil hak orang. Itu sumber segalanya, sumber keserakahan, sakit hati, dan korupsi,” tandas dia.
Tak diragukan lagi, Kamajaya adalah seorang pekerja keras yang gigih dan ulet. Toh, ia tetap percaya bahwa bekerja keras saja tak cukup. “Saya memang pekerja keras, tetapi saya sangat percaya keberuntungan,” ujar dia.
Apa saja obsesi Kamajaya? Bagaimana ia menerapkan gaya kepemimpinan? Mengapa ia sangat percaya keberuntungan? Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.

Bisa cerita success story Anda?
Sejak dulu saya memang senang berbisnis. Dari SD, saya sudah membantu kakek menjual kompor di toko kecil. Saya hanya membantu mengikat-ikat. Kalau dapat untung, rasanya senang. Saat kuliah, saya berjualan baju hamil dan baju anak-anak untuk membantu biaya kuliah. Saya kuliah di teknik sipil, sehingga butuh biaya banyak. Saya juga memasok baju ke department store.
Selain jualan baju, saya menjadi guru les di SD dan SMP. Uang saya paling banyak untuk ukuran mahasiswa waktu itu. Meskipun kuliah sambil kerja, saya lulus paling cepat, yakni dari 1986 hingga 1990. Kemudian saya ke Jakarta, bekerja di Bimantara, menjual komputer. Baru dua bulan, saya diterima di perusahaan peralatan eksplorasi minyak selama setahun. Kemudian saya mendapat beasiswa S2 di Universitas Prasetya Mulya, mengambil master keuangan dan pemasaran.
Sebelum lulus pada akhir 1993, saya diterima bekerja di Multi Fortuna yang memasok barang-barang hotel, restoran, dan klub golf. Di sana, saya belajar dan menjadi matang. Atasan saya menyuruh saya bekerja, dari mulai menyiapkan gudang sampai berjualan. Sampai sekarang saya menjadi distributor barang-barang hotel, tetapi teman saya yang menjalankan.
Pada 1996, saya mulai berjualan buah, itu juga berjalan sampai sekarang. Saya melihat ada potensi besar di situ. Awalnya saya berjualan buah lokal, seperti jeruk dari Nambengan dan Magetan, atau melon dari Madiun. Sekarang jual pisang juga. Saya pun impor buah, seperti apel dan anggur dari Amerika, Australia, Tiongkok, Iran, dan Afrika Selatan.

Bagaimana awal Anda masuk industri gula?
Saya masuk ke industri gula pada 2002. Awalnya saya ditanya bos, apakah sanggup mengerjakan logistik untuk Coca Cola. Ternyata bisnis itu menguntungkan. Makanya, saya kemudian bertekad memiliki bisnis yang size-nya agak besar. Saat itu saya melihat ada PG di Kendal yang sudah 10 tahun mati. Lalu saya perbaiki, sehingga bisa giling tebu lagi. Pada tahap I, kapasitas produksi baru 1.700 TCD (ton cane day) dan meningkat menjadi 2.500 TCD, tapi sekarang turun sedikit.
Industri gula membutuhkan modal besar dan menyentuh banyak orang, terutama petani. Saya memulainya dari kepercayaan. Waktu tidak punya modal, saya memiliki banyak teman. Ada investor juga yang bergabung. Waktu itu Anda bukan siapa-siapa dalam industri gula.

 
Bagaimana Anda bisa meraih kepercayaan, terutama dari perbankan?
Prinsip saya, jangan mudah menyerah. Konsep dan modal bisnisnya harus jelas. Sampaikan itu ke rekan bisnis. Memang, waktu itu tidak mudah mencari pinjaman bank. Saya menyampaikan presentasi kepada 12 bank dan semuanya ditolak. Hanya BRI yang mau memberi pinjaman karena tujuan saya sama dengan visi mereka. Kami mempekerjakan 15 ribu orang dan bisnisnya sesuai dengan program pemerintah, yakni swasembada gula. Makanya sampai sekarang saya loyal kepada BRI.

 
Anda sedang membangun PG baru di Grobogan. Bagaimana perkembangannya?
Saya membangun PG Gendhis Multi Manis (GMM) di Grobogan, Jawa Tengah dengan nilai investasi Rp 1,6 triliun. Pabrik ini dibangun selama 2,5 tahun dan akan beroperasi mulai November 2013 dengan kapasitas produksi 4.000 TCD. Setelah setahun, PG tersebut akan dievaluasi dan selanjutnya bakal ekspansi menjadi 8.000-10 ribu TCD pada 2015. Jika ini terealisasi, GMM akan menjadi PG berkapasitas produksi terbesar di Jawa. Saat ini, gula produksi GMM akan dipasok untuk kebutuhan Jawa Tengah yang masih defisit 180 ribu ton per tahun.

Apa upaya Anda untuk mendekati petani?
Saya berupaya membangun komunitas dengan petani. Sebagai perekat, kami mendasarinya dengan kejujuran dan kepercayaan. Untuk meraih kepercayaan petani, perusahaan memberi jaminan rendemen 8%. Kami juga menentukan bagi hasil sebesar 60% untuk petani dan 40% untuk perusahaan. Biasanya, bagi hasil 60-40%. Dahulu, lahan tebu di sana hanya 300 hektare (ha) dan dalam setahun bertambah menjadi 3.500 ha.

Visi dan misi Anda masuk industri gula?
Kalau saat ini ada ‘samurai gula’ (sebutan yang lazim digunakan untuk para pelaku kartel gula dan pemburu rente dalam industri gula nasional, red), saya ingin menjadi pendekar gula. Punya ilmu tinggi, punya senjata yang seimbang, keberanian, dan hati nurani. Sedangkan misi saya adalah membangun bisnis yang menguntungkan dan dapat berbagi dengan masyarakat.

Anda punya gaya kepemimpinan seperti apa?

Saya cenderung rileks, tetapi kerjanya harus berprestasi. Saya tidak anti orangtua, tetapi saya ingin cari yang muda-muda. Anda tahu Jokowi kan? Dia salah satu orang muda yang patut dicontoh. Kalau pemimpin mau turun ke bawah, mereka akan tahu problem masyarakat. Saya bukan tipe penyabar, segala sesuatu maunya cepat. Harus terbuka, tidak ada yang disembunyikan, dan apa adanya. Saya pecinta kerja keras. Biasanya saya tidur jam 12 malam dan bangun jam 4.30 atau jam 5 pagi. Malam-malam saya sering keliling melihat PG.

Pengalaman Anda yang paling berkesan?
Pengalaman tak terlupakan yaitu waktu menjalankan mesin pertama kali di PT Industri Gula Nusantara (IGN). Saya hampir menangis, tapi malu. Itu kan pabrik yang sudah 10 tahun mati. Proses perbaikannya dimulai pada 2002 dan baru bisa dijalankan pada 2008 berbarengan dengan Olimpiade Beijing. Saat itu banyak yang meragukan. Saya tidak terpengaruh dengan hal-hal seperti itu. Semakin orang meragukan, tekad saya semakin kuat. Saat itu ada doktor yang meragukan saya. Saya bilang, kalau saya berhasil, saya akan datang kepada Anda. Setelah berhasil, saya datangi dia.

Obsesi Anda yang belum tercapai?
Saya ingin memproduksi gula hingga 1 juta ton per tahun. Ini saya targetkan dicapai dalam 10 tahun ke depan. Saya berencana membangun dua PG lagi di Jawa dan dua PG di luar Jawa. Kalau ada 5-6 PG lagi, produksi bisa 1 juta ton. Fokus dalam berbisnis sangat penting. Itu membutuh kan modal dan upaya. Jadi, saya harus kuatkan GMM dulu.

Mana yang lebih menentukan bagi Anda, kerja keras atau keberuntungan?

Saya memang pekerja keras, tetapi saya sangat percaya pada keberuntungan. Bisnis yang saya jalani sekarang merupakan suatu ketidaksengajaan. Anda tahu cita-cita saya dulu? Saya bercita-cita menjadi sopir bus antarkota antarprovinsi Kramat Jati atau Lorena karena saya suka ritmenya. Dulu saya sering naik bus tersebut, makanya tertarik. Saya tanya gaji sopirnya. Pada 1990, gaji mereka Rp 700 ribu per bulan, padahal insinyur teknik sipil yang baru lulus gajinya cuma Rp 250 ribu. Tapi, tentu saja keberuntungan akan datang kalau kita bekerja keras dan sungguh-sungguh. Keberuntungan tidak akan datang kepada orang yang malas.

Apa filosofi hidup Anda?

Filosofi saya yang terkait bisnis atau pekerjaan adalah jangan ambil hak orang. Itu sumber segalanya, sumber keserakahan, sakit hati, dan korupsi.

Bagaimana dukungan keluarga?

Keluarga saya sangat mendukung. Saya punya dua anak. Mereka mengerti aktivitas saya. Kebetulan istri saya juga pengusaha. Saya berkumpul dengan keluarga saat weekend. Intensitas pertemuan penting juga. Tapi bagi saya, yang penting kualitas. Saat di Jakarta, saya ikut mengantar anak-anak ke sekolah dan makan bersama. (*)

—————–

“ Begitulah memang apa yang dikatakan Beliau Bp Kamajaya, peduli terhadap rakyat kecil ( petani ) terutama petani tebu untuk menjadikan Indonesia swasembada gula yang pada akhirnya menuju masyarakat Indonesia makmur pada umumnya dan khususnya Kab. Grobogan Jawa Tengah dan sekitarnya.

“ Tapi, tentu saja keberuntungan akan datang kalau kita bekerja keras dan sungguh-sungguh. Keberuntungan tidak akan datang kepada orang yang malas” 

Memang betul apa yang Beliau Bp Kamajaya sampaikan…..”Keberuntungan tidak akan datang kepada orang yang malas”
Banyak pelajaran dari beliau dan Tim Proyek PT GMM karena saya ikut dalam pembangunan Proyek Pabrik Gula PT Ghendis Multi Manis………..Salam sukses selalu  buat Bp Kamajaya.

 

Diambil dari Rak Document Investor Daily Indonesia, Edisi Rabu, 8 Mei 2013

http://www.investor.co.id/wawancara/percayalah-pada-keberuntungan/60473

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: